Refleksi Kritis: Robohnya Bangunan Pesantren Al-Khaziny dan Kasus Sahara dengan Yai Mim

Retoria.id – Dua dari sekian banyak berita besar yang menyedot perhatian para netizen belakangan ini adalah robohnya bangunan pesantren Al Khaziny dan kasus Sahara vs Yai Mim. Suara netizen beragam, termasuk suara yang sangat berlebihan menyikapi dua kasus itu. Ya, berlebihan. Karena bahasa atau diksi yang digunakan sangat kasar, seringkali tidak tepat, dan menyasar ke mana-mana.

Seringkali netizen yang kontra merespon satu isu tanpa tahu konteks peristiwanya, konteks historis-sosiologisnya, dan dimensi isu yang bisa jadi sangat luas. Saya sebut respon netizen yang, misalnya, menggunakan diksi “perbudakan” untuk menggambarkan santri yang bantu ngecor. Diksi ini gawat sekali. Diksi ini asal comot yang menjelaskan bahwa penanggapnya tidak memahami kultur pesantren. Ini hanya satu contoh saja dari sekian banyak contoh respon netizen yang bukan mengurai masalah, tapi membakarnya.

Dalam kasus Sahara vs Yai Mim tak kalah berisiknya. Kasus ini melebar menjadi ujaran kebencian terhadap suku Madura (kebetulan suami Sahara orang Madura). Dunia media sosial berubah menjadi kuali besar yang menggoreng suku sedemikian panasnya. Seolah keburukan secara esensialis milik suku tertentu, sehingga jika sebagian melakukan keburukan, semuanya kena.

Saya tidak mengatakan bahwa dalam dua kasus di atas semua pihak benar. Bahwa kontruksi bangunan Al Khaziny bermasalah, benar adanya. Bahwa sebagian orang Madura melakukan keburukan, juga benar adanya. Tetapi bisakah kita bersikap adil sejak dalam pikiran, meminjam istilah Pramoedya, sehingga respon yang kita berikan bukan keluar dari kebencian?

Baca Juga: Plagiarisme Dalam Pandangan Imam As Suyuti dan Kisah Penjiplakan Terhadap Kitab-kitabnya

Seringkali kebaikan dan keburukan itu bersifat enigmatik. Ia tidak pernah selesai ditafsir. Manusia yang berbuat keburukan akan segera ditelusuri asal-usulnya: “dari suku mana?”, “anak siapa?”, “alumnus pesantren mana?”. Tapi anehnya, ketika seseorang berbuat kebaikan, tak ada yang bertanya ia datang dari latar belakang apa. Seolah kebaikan itu tak perlu asal, sementara keburukan selalu butuh silsilah. Kita dengan mudah menisbatkan dosa pada kelompok, tapi enggan menisbatkan kebajikan pada siapa pun. Inilah paradoks moral di zaman yang kehilangan waktu untuk diam.

Sepertinya kita kalap merespon, akibat beratnya beban pikiran karena dibajak informasi yang setiap detik menyusup ke otak kita. Kita tak pernah mengunyahnya. Persis seperti orang makan: belum selesai mengunyah, kita mengisi lagi mulut dengan makanan, dan seterusnya begitu. Akibatnya perut kembung dan tak bisa menampung makanan yang terus datang bertubi-tubi. Dan Anda tahu sendiri mekanisme organ ketika perut terisi penuh makanan? Ya, kotoran akhirnya keluar ke bawah.

Itulah kenapa kita butuh sejenak menarik diri dari kebisingan informasi yang setiap detik masuk ke dalam otak kita. Kita endapkan dulu informasi itu. Kita butuh merenung. Menarik informasi yang kita peroleh ke dalam kesadaran. Mengunyah, memilah, menganalisis, menentukan sikap, mengambil keputusan, dan menuangkan dalam ide, gagasan, komentar yang mencerahkan. Bukan marah-marah, membakar, menyerang, menghakimi, dan seterusnya.

Sayang, orang-orang saat ini seperti tidak punya waktu merenung. Kehidupan serba cepat memaksa dia mengambil keputusan cepat. Keputusan cepat memaksa dia mengambil tindakan cepat. Untuk hari ini. Saat ini. Akibatnya, keputusan yang diambil seringkali tidak memperhitungkan akibat yang bakal ia terima. Jika sumpek, misalnya, jalan keluarnya minum alkohol. Tak peduli minum alkohol bisa membahayakan kesehatan dan otaknya, dan seterusnya.

Nah, komentar terhadap dua isu yang saya sebut di awal juga terjebak pada pola pikir dangkal. Sesaat. Tidak dalam. Karena komentar yang kasar dan menghakimi saya duga berasal dari tiadanya waktu merenung. Ayo merenung. Kita butuh keheningan. Di WC pun tidak apa-apa. (*) 

 

A. Zubairi Dardiri, Penulis Buku Politik Agraria Madura: Privatisasi, Marginalisasi dan Perampasan Ruang Hidup. 

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571686827/refleksi-kritis-robohnya-bangunan-pesantren-al-khaziny-dan-kasus-sahara-dengan-yai-mim

Rekomendasi