Retoria.id – Jika ada satu kata untuk karakter tulisan Imam Nawawi (w. 1277), saya berani menjamin, kata yang tepat adalah ‘integritas.’ Saya menyadari hal ini ketika membaca sebuab kutipan dari kitabnya yang berjudul Bustan al-’Arifin.
“Di antara sebuah nasihat (untuk pembaca): hendaknya menisbahkan sebuah faedah kepada penuturnya. Barang siapa melakukannya, niscaya ilmu dan hidupnya akan diberkahi. (Sebaliknya), barang siapa memanipulasi hal itu dan memberi kesan bahwa pendapat yang didapatnya dari orang lain seolah-olah miliknya, maka dia pantas agar ilmunya tidak bermanfaat dan hidupnya tidak berkah. Para ilmuwan dan utamawan senantiasa menisbahkan faedah kepada penuturnya. Dan kami selalu memohon kepada Allah Swt agar senantiasa menolong kami dalam upaya ini.”
Kutipan di atas mungkin berangkat dari keahliannya dalam bidang hadis. Mata rantai perawi yang rumit itu memang harus dipelajari dengan ketekunan super ekstra, juga tidak boleh main-main. Sekali Anda ceroboh mencantumkan sanad, taruhannya adalah tindakan bohong pada Nabi saw. Dan kita tahu bersama apa konsekuensi dari tindakan ini.
Ilmu hadis sendiri lahir karena maraknya kebohongan atas nama Nabi. Banyak orang memfabrikasi mata rantai perawi atau bahkan mengarang-ngarang ucapan Nabi. Ketekunan menelusuri mata rantai perawi, mendaftar nama-namanya, serta melacak keterpercayaannya melahirkan taksonomi perawi (‘ilm al-rijāl). Dari pelacakan terhadap ribuan mata rantai perawi, teridentifikasilah pola-polanya sehingga lahir ilmu mustalah hadis.
Semua ilmu tadi adalah makanan sehari-hari Imam Nawawi. Dia menulis kitab-kitab hadis babon. Syarahnya terhadap Ṣaḥīḥ Muslim termasuk syarah terbaik dan terlengkap. Kitab Riyāḍ al-ṣāliḥīn, Al-Adhkār, Al-Tibyān, dan Al-Arba‘īn menjadi kitab himpunan hadis yang penting dibaca. Kitab-kitab terakhir ini jadi bahan pengajian rutin di banyak pesantren.
Baca Juga: Plagiarisme Dalam Pandangan Imam As Suyuti dan Kisah Penjiplakan Terhadap Kitab-kitabnya
Berkat keahliannya dalam ilmu hadis inilah, barangkali, Imam Nawawi menerapkan standar ketat dalam pengutipan. Menukil perkataan orang lain dengan sembrono, apalagi mendakunya sebagai ucapan sendiri, adalah tindakan tidak terpuji. Akibatnya adalah ilmu yang tidak bermanfaat dan hidup yang tidak berkah.
Namun tulisan-tulisan Imam Nawawi tidak terbatas pada ilmu hadis. Dia juga penulis kitab fikih yang mumpuni. Ini bukan isapan jempol semata sebab dia menjadi salah satu dari ‘dua guru’ (al-shaykhayn) dalam mazhab fikih shāfi‘iyyah, mendampingi Imam Al-Ramli. Itu artinya, pandangannya adalah salah satu rujukan utama dalam mazhab ini.
Kitab fikihnya, Al-Majmu’ Sharh al-Muhadhdhab, adalah karya agung yang meringkas, mengevaluasi, mengkritisi dan terkadang mengajukan alternatif terhadap pandangan-pandangan ulama fikih Shafi’iyyah sebelumnya, sejak Imam Al-Shafi’i sendiri hingga masanya. Saya membayangkan, kerja penulisan seperti ini adalah kerja ekstra keras dan super tekun, yang mungkin dilakukan oleh penulis dengan visi ilmiah jangka panjang.
Ada kitab fikihnya yang tergolong tipis, namun punya nilai penting dalam lanskap fikih mazhab Shafi’iyyah, judulnya Minhaj al-Talibin. Kitab ini punya dampak tidak main-main secara ilmiah, sebab telah melahirkan 10 komentar yang ditulis oleh para ulama sesudahnya. Sebagian besar syarah ini menjadi rujukan penting dalam fikih Shafi’iyyah.
Dan ada satu hal yang membuat saya kadang garuk-garuk kepala, bukan karena gatal, melainkan lebih karena heran. Dia membuat karya-karya babon itu dalam usia relatif muda. Buktinya, dia wafat di permulaan usia 45 tahun.
Kutipan yang saya cantumkan di permulaan tulisan ini mengingatkan saya pada praktik kekaryaan dalam akademia Indonesia. Banyak akademisi di Indonesia yang tampaknya tergolong tidak berkah hidupnya dan tidak bermanfaat ilmunya — sebagaimana disampaikan Imam Nawawi.
Bukan apa-apa, praktik kepengarangan palsu kerap dianggap wajar di kalangan akademisi. Banyak dosen titip nama dalam karya mahasiswanya atau juniornya, bahkan banyak pula yang pakai jasa joki. Praktik-praktik pelanggaran etis (misconduct) lain juga tidak sulit ditemukan.
Motifnya itu tentu macam-macam, penyebabnya juga tidak seragam. Namun yang tidak bisa disangkal adalah dampaknya. Dalam jangka panjang, praktik-praktik pelanggaran semacam itu hanya akan memperburuk keadaan dalam skala yang luas.
Dalam jangka pendek, efeknya mungkin tidak terasa, bahkan bisa jadi pelakunya dapat keuntungan. Tapi lihat saja nanti di masa depan, dampaknya akan merembet ke mana-mana.
Ini mirip dengan membuang sampah sembarangan, efeknya tidak terasa dalam waktu dekat. Tapi dalam jangka panjang, kita akan melihat sungai mampet menyebabkan banjir, tumpukan sampah menyebabkan penyakit, sampah di laut menghasilkan plastik mikro yang meracuni ikan-ikan dan secara tidak langsung meracuni manusia juga. Semua itu bermula dari kebiasaan kita membuang sampah sembarangan.
Walhasil, dari Imam Nawawi saya belajar bahwa integritas adalah perkara penting bagi seorang penulis. Integritas perlu masuk dalam standar dan mekanisme kepenulisan. Bayangkan jika integritas dianggap remeh dalam tulisan-tulisan hadis, betapa banyak orang berbohong atas nama Nabi saw.
Berkat Imam Nawawi saya belajar, segala pelanggaran etis dalam kepenulisan itu harus dihindari. Tidak boleh ada pewajaran, tidak perlu dicari-carikan pembenaran.
Saya cuma ingin ilmu yang bermanfaat dan hidup yang berkah. Dua hal ini adalah idaman orang-orang pesantren, bukan? (*)
*M. Hilal, Akademisi dan Pengajar di Universitas Al Qalam Malang.