Jurnalisme Xpose Trans7: Potret Arogansi Epistemik dan Investigasi Dungu Tanpa Sosiologi dan Antropologi Pesantren

Retoria.id – Liputan seperti yang dilakukan oleh Xpose dalam beberapa tayangan tentang kehidupan pesantren adalah contoh sempurna dari bagaimana ketidaktahuan kultural dapat melahirkan kesesatan jurnalistik. Tayangan yang memotret santri jongkok di depan kiai, ngesot sambil memberi amplop, atau membersihkan rumah kiai hingga ke daun-daunnya diposisikan sebagai bukti penindasan dan feodalisme. Namun, kesimpulan seperti itu hanya lahir dari satu hal: kebutaan terhadap pola sosial dan budaya khas pesantren.

1. Pesantren: Dunia Sosial yang Berbeda

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ekosistem sosial tersendiri yang memiliki tata nilai, struktur simbolik, dan sistem relasi sosial yang tidak dapat diukur dengan logika masyarakat luar.
Dalam konteks antropologi, pesantren adalah moral community (Geertz, 1960) sebuah komunitas moral yang mengatur kehidupan warganya melalui nilai-nilai keagamaan, bukan kontrak sosial sekuler.

Di luar pesantren, relasi sosial biasanya berbasis rasionalitas ekonomi dan kesetaraan formal. Namun di pesantren, struktur sosial dibangun di atas rasionalitas spiritual di mana ilmu, barakah, dan khidmah (pelayanan kepada guru) menjadi mata uang simbolik yang lebih tinggi dari materi.

Baca Juga: Refleksi Kritis: Robohnya Bangunan Pesantren Al-Khaziny dan Kasus Sahara dengan Yai Mim

Maka ketika media melihat santri membersihkan rumah kiai lalu menyimpulkan “eksploitasi,” mereka sebenarnya sedang memasuki dunia simbolik dengan kacamata ekonomi modern dan itulah awal dari kekeliruan interpretatif.

2. Adab, Khidmah, dan Barakah: Logika Sosial yang Tak Dikenal oleh Jurnalis Umum

Dalam kebudayaan pesantren, tiga konsep sentral — adab (etika hormat), khidmah (pengabdian), dan barakah (keberkahan) — menjadi dasar hubungan sosial.

Adab mengatur cara santri berinteraksi dengan guru, bahkan dalam gestur fisik seperti jongkok atau mencium tangan. Khidmah bukan kerja upahan, melainkan latihan spiritual untuk menundukkan ego dan melatih keikhlasan. Barakah dipahami sebagai imbalan non-material yang diyakini lebih bernilai dari keuntungan ekonomi.

Ketika seorang santri membersihkan rumah kiai, mereka tidak “dipaksa bekerja” dalam arti kapitalistik, melainkan “berlatih melayani” dalam kerangka spiritual. Tindakan ini, bagi santri dan tradisi pesantren, memiliki nilai teologis dan pedagogis — bukan bentuk penindasan.

Mengabaikan struktur makna ini berarti menafsirkan simbol dengan logika asing. Dalam antropologi budaya, kesalahan semacam ini disebut ethnocentric misreading — membaca budaya lain dengan nilai-nilai diri sendiri. Dan di sinilah Xpose jatuh ke dalam jurang kebodohan kultural.

3. Antropologi dan Sosiologi Pesantren: Ilmu yang Harus Dipahami Sebelum Menghakimi

Setiap upaya “investigatif” terhadap pesantren harus didasarkan pada kerangka ilmiah yang benar, bukan pada asumsi media populer. Antropologi pesantren mengajarkan bahwa: hubungan kiai–santri adalah relasi patron–spiritual, bukan patron–ekonomik; pesantren beroperasi dengan sistem komunitarian, bukan korporatis; nilai pengabdian bukan subordinasi, melainkan tahapan dalam transmisi ilmu dan etika.

Sementara sosiologi pesantren memperlihatkan bahwa otoritas kiai bukan hasil kekuasaan material, melainkan legitimasi moral dan spiritual yang diakui secara sukarela oleh santri dan masyarakat.
Tanpa memahami hal ini, setiap liputan akan tampak “berani” tapi sebenarnya dangkal, sesat, dan menyesatkan.

4. Kegagalan Jurnalistik: Sensasi Mengalahkan Data

Xpose dan media sejenis lebih sibuk memburu visual yang mengguncang emosi ketimbang membangun argumen yang sahih. Tidak ada penelitian lapangan, tidak ada wawancara dengan santri, tidak ada pembacaan literatur pesantren, tidak ada triangulasi data. Yang ada hanya potongan video pendek yang ditafsirkan serampangan.

Ini bukan jurnalisme investigatif, melainkan jurnalisme impresionistik — yang menilai realitas berdasarkan kesan mata awam, bukan data sosial. Ketika media mengangkat “skandal feodalisme pesantren” tanpa metodologi antropologis, mereka bukan sedang mengkritik kekuasaan, melainkan memproduksi prasangka dan distorsi publik.

5. Kebutuhan Mendesak: Literasi Antropologi dan Sosiologi Pesantren bagi Jurnalis

Indonesia memiliki ribuan pesantren dengan pola relasi sosial dan tradisi keilmuan yang berakar kuat. Untuk meliput dunia ini dengan jujur dan cerdas, jurnalis harus belajar dasar antropologi dan sosiologi pesantren.

Beberapa prinsip dasar yang seharusnya dipegang: Kontekstualisasi simbol. Jangan menilai gestur atau perilaku tanpa memahami makna lokalnya. Observasi partisipatif. Turun ke lapangan, hidup bersama santri, amati logika sosial dari dalam. Wawancara multi-sumber. Jangan hanya memotret dari satu sisi visual.

Gunakan teori budaya. Fahami konsep barakah, khidmah, adab, dan sanad keilmuan sebagai struktur sosial. Tanpa itu semua, media akan terus melahirkan laporan yang penuh sensasi tapi kosong data — bising tapi buta.

6. Penutup: Antara Kebodohan Kultural dan Tanggung Jawab Intelektual

Kebodohan kultural Xpose bukan sekadar kesalahan teknis, tapi bentuk arogansi epistemik — merasa paham dunia pesantren tanpa mau mempelajari sistem nilainya.
Sosiologi dan antropologi pesantren bukan sekadar disiplin akademik; ia adalah kunci etis untuk menghindari kesesatan publik.

Setiap jurnalis yang meliput pesantren tanpa bekal pemahaman kultural adalah seperti turis yang menulis laporan etnografi dari balkon hotel — penuh sensasi, tapi nampak tolol dan dongo.

Jika media ingin menjadi alat pencerahan, bukan alat penghasut, maka langkah pertama adalah belajar memahami sebelum menilai. Pesantren tidak butuh pembelaan, tapi publik butuh kejujuran intelektual agar tidak terus disesatkan oleh jurnalisme yang miskin wawasan dan miskin data. (*) 

 

*F. Hidayat, Pengajar, Santri dan praktisi Ilmu Mantiq

Sumber: https://www.retoria.id/suara-retor/2571691536/jurnalisme-xpose-trans7-potret-arogansi-epistemik-dan-investigasi-dungu-tanpa-sosiologi-dan-antropologi-pesantren

Rekomendasi