Retoria.id – Cuma menghafal, kata Pak Gembul. Nada suaranya datar, tapi rasanya menembus dada seperti ujung pena yang belum tuntas menulis. Seolah-olah menghafal itu pekerjaan ringan, mekanis, tak perlu berpikir.
Padahal di pesantren, hafalan bukan sekadar tugas rutin. Ia semacam ziarah; perjalanan batin menelusuri jejak para ulama melalui kata dan makna yang mereka tinggalkan.
Kami memang terbiasa menghafal. Dari Amtsilatul Tashrifiyah yang penuh pola, Jurumiyah yang ringkas, sampai Alfiyah Ibn Malik yang berderet bait.
Setiap pagi, lidah kami berbaris rapi seperti pasukan. Mengulang kaidah demi kaidah, menciptakan irama yang bukan sekadar bunyi.
Kami menyebut fa’il dan maf’ul bih dengan nada seperti mantra. Kadang tanpa sadar, ayat-ayat shorof dan nahwu itu menempel di kepala, bahkan saat kami makan atau menyapu halaman.
Dalam Taksonomi Bloom, menghafal disebut remembering. Level pertama. Tapi siapa bilang yang pertama itu rendah?
Baca Juga: Feodalisme Cinta: Ketundukan Santri Sebagai Simbol Rasa Bukan Simbol Kuasa
Bukankah setiap bangunan berdiri di atas pondasi? Dan pondasi, meski tak tampak, justru yang menahan segalanya tetap kokoh.
Lihatlah mahasiswa di luar sana. Mahasiswa matematika menghafal rumus aritmetika, aljabar, geometri, sampai trigonometri.
Mahasiswa fisika menghafal hukum gravitasi Newton, sampai relativitas Einstein. Mahasiswa kimia menghafal tabel unsur periodik, sampai rumus entalpi serta entropi. Mahasiswa biologi menghafal nama latin makhluk hidup sampai struktur DNA.
Mahasiswa ekonomi menghafal rumus elastisitas, model regresi, sampai teori utilitas. Mahasiswa teknik menghafal rumus tegangan, momen gaya, dan efisiensi mesin. Mahasiswa psikologi menghafal teori Freud, Mahasiswa filsafat? Mereka menghafal pertanyaan. Tentang ilmu, realitas, dan kebenaran.
Semua disiplin berawal dari hafalan. Tapi ilmu tak berhenti di sana. Hafalan hanyalah pintu masuk menuju pemahaman, seperti nada dasar dalam musik: tanpa itu, harmoni tak akan lahir.
Guru kami di pesantren juga tidak berhenti di hafalan. Setelah hafal, kami harus paham. “Apa yang kamu hafal itu harus kamu pahami,” kata Kiai.
Maka kami duduk di bawah lampu temaram, mendengarkan penjelasan panjang tentang kenapa satu kata bisa berubah harakat hanya karena huruf atau kata di depannya. Itu tahap understanding, level kedua.
Lalu kami belajar menerapkan. Menyusun kalimat, menerjemahkan teks, menulis ulang bait menjadi prosa. Applying, katanya. Level ketiga. Ilmu tidak cukup di kepala. Ia harus menjelma tindakan.
Tahap berikutnya: analisis. Guru bertanya, “Kenapa bentuk ini begini, kenapa yang itu begitu?” Kami diajak berpikir. Dalam diskusi tarkiban atau bahtsul masail, kami berdebat tentang hukum, bahasa, dan kadang, tentang kehidupan itu sendiri. Di situ kami sadar, hafalan adalah batu loncatan menuju berpikir.
Tapi pesantren tak berhenti di berpikir. Kami diajak menimbang.
Tahap evaluasi. Saat kami mulai menilai pendapat ulama, bukan sekadar mengutipnya. Membandingkan, menguji, mencari alasan di balik teks. “Kenapa Ibn Malik menulis bait seperti itu?” tanya guru. “Adakah cara lain yang lebih mudah dihafal?”
Pertanyaan sederhana, tapi mengguncang. Kami belajar bahwa ilmu selalu berdialog dengan sejarah dan pengalaman manusia. “Ilmu bukan untuk dikoleksi,” kata guru, “tapi untuk diuji. Jangan cuma hafal, tapi rasakan bobotnya.”
Sejak itu kami belajar merasa terhadap ilmu. Seperti koki yang tahu mana rempah yang pas, kami mulai tahu mana kaidah yang kuat dan mana yang sekadar kebiasaan. Hafalan pun bertransformasi jadi kebijaksanaan.
Tahap terakhir: mencipta. Yang paling sulit. Bagaimana mencipta tanpa melupakan asal? Bagaimana menulis yang baru tanpa menghapus jejak lama?
Kiai kami selalu berkata, “Yang baru itu bukan berarti yang lama salah. Yang baru itu hasil dari yang lama dipahami sungguh-sungguh.”
Di pesantren, kami belajar astronomi dan matematika. Menghitung warisan, menentukan arah kiblat, memprediksi gerhana.
Semuanya bermula dari hafalan. Lalu pemahaman, penerapan, analisis, evaluasi, hingga akhirnya; kreasi. Kami mencipta cara baru menentukan awal bulan, menghitung lebih akurat, atau menulis ulang agar santri lain lebih mudah memahami.
Kata sang bijak: pengetahuan adalah ingatan kembali. Mungkin benar. Hafalan, pada dasarnya, adalah upaya manusia mengingat kebijaksanaan yang pernah hilang dari dirinya.
Ketika malam tiba dan suara ngaji terdengar seperti ombak kecil di tengah pesantren, saya paham satu hal: menghafal bukan meniru. Ia adalah bentuk penghormatan paling dalam terhadap ilmu. Cara kami menjaga agar pengetahuan tetap hidup di antara napas manusia.
Orang luar mungkin tetap berkata, “Cuma menghafal.” Tapi di balik kata “cuma” itu ada ribuan jam perjalanan batin, ratusan detik kebingungan, dan satu detik pencerahan ketika makna tiba-tiba menyingkap dirinya.
Apakah menghafal berarti berhenti berpikir? Atau justru, di sanalah pikiran pertama kali belajar untuk diam, dan mendengar sebelum berani berbicara? (*)
*Dani Ramdani, Pengajar dan Penerjemah Kitab Al Najat Karya Ibn Sina.