Resensi Buku Dopamine Nation: Menemukan Keseimbangan di era Hedonisme

Retoria.id – Ketika mendengar kata pecandu, gambaran apa kira-kira yang muncul di benak kita? Orang kurus berkeringat menukar uang lusuh dengan sekantong bubuk putih? Seorang ibu di pinggiran kota yang diam-diam membuka botol anggur? Seorang pria yang menghabiskan malam menonton porno? Atau mahasiswa semester dua yang tidak bisa meletakkan ponselnya bahkan untuk belajar?

Padahal, kecanduan tidak selalu tampak dramatis. Ia bisa berupa perilaku sehari-hari, gim video, belanja online, media sosial, makanan tinggi gula, bahkan konsumsi hiburan ringan. Secara umum, kecanduan adalah penggunaan zat atau perilaku secara terus-menerus dan kompulsif hingga membahayakan diri sendiri dan sekitar. Semua contoh di atas termasuk kecanduan.

Anna Lembke, psikiater dari Stanford dan penulis Dopamine Nation, bahkan mengakui dirinya seorang pecandu: ia tidak bisa berhenti membaca novel roman dangkal seperti Twilight atau Fifty Shades of Grey di setiap jeda konsultasi.

Dan justru dari pengakuan jujur itulah pesan utama bukunya menonjol: di era konsumsi berlebihan, kita semua pada dasarnya adalah pecandu kesenangan.

Baca Juga: Buku-buku politik terbaik dunia yang harus dibaca oleh semua orang

Akses adalah faktor risiko terbesar. Krisis opioid di Amerika Serikat, misalnya, dipicu oleh resep obat penghilang rasa sakit yang berlebihan sejak awal 2000-an. Namun obat hanyalah puncak gunung es. Makanan kita semakin adiktif; teknologi kita semakin memanjakan; satu klik dan satu gulir saja sudah cukup memicu dopamin dalam jumlah besar.

Tidak mengherankan tingkat kecanduan meningkat. Secara global, 70 persen kematian berkaitan dengan faktor seperti merokok, obesitas, dan kurang aktivitas fisik.

Orang miskin mungkin kekurangan akses kesehatan dan pendidikan, tetapi mereka tidak pernah kekurangan sarana pelarian dari realitas semua berkat industri dopamin yang semakin kuat.

Dopamin: Penguasa Kecil di Balik Kebiasaan Kita

Makhluk paling berpengaruh dalam cerita ini bukan manusia, melainkan neurotransmitter kecil bernama dopamin. Ia mengatur motivasi, menentukan pilihan, dan kerap menyeret kita kembali pada perilaku yang sama demi kenikmatan sesaat.

Yang menakutkan: dopamin sedang bekerja di otak Anda saat ini juga bahkan saat membaca kalimat ini.

Buku ini mengajak kita mengenali dopamin dengan jujur agar kita mampu membuat pilihan hidup yang lebih bijak.

Dalam cerita klasik Burung Emas Grimm, tokoh utama harus memilih antara penginapan sederhana yang tidak nyaman atau hotel megah penuh cahaya dan tarian. Rubah penuntunnya memperingatkan bahwa hotel mewah itu adalah perangkap yang akan menyandera hidupnya selamanya.

Beginilah cara dopamin bekerja: yang nyaman sering kali adalah jebakan.

Lembke menunjukkan bahwa untuk mencapai “burung emas”—tujuan hidup yang lebih besar—kita harus berani bertahan dalam ketidaknyamanan: menunda kenikmatan, menerima rasa sakit kecil, dan memahami dinamika antara kesenangan serta penderitaan.

Kisah-Kisah Pecandu: Manusia yang Terlihat Baik-Baik Saja

Bagian paling kuat dari buku ini ada pada kisah-kisah nyata pasien:

Jacob, yang mencoba menghindari segala pemicu seksual hingga dianggap kuno. Tapi baginya, membatasi diri adalah bentuk kebebasan.

Maria, pecandu alkohol yang berkata: “Ketika minum, aku tidak pernah jujur. Kebohonganku bahkan tidak masuk akal.”

Tony, yang terlihat sempurna di Facebook lari subuh, produktif, penuh prestasi tetapi di balik layar terpuruk, kecanduan pornografi, dan berpikir untuk mengakhiri hidup.

Lembke menulis: “Ketika hidup nyata kita tak sesuai dengan citra yang kita tampilkan, kita rentan terasing depersonalisasi yang sering berujung pikiran bunuh diri. Obatnya adalah keaslian diri; jalannya adalah kejujuran radikal.”

Dopamin dan Era Digital: Ketika Perilaku Viral Menjadi Normal

Lembke juga mengingatkan: “Manusia adalah makhluk sosial. Ketika kita melihat perilaku tertentu menyebar luas di internet, kita menganggapnya normal. Kita seperti kawanan burung—begitu satu mengepakkan sayap, kawanan lain ikut.”

Itulah mengapa banyak perilaku yang dulu tabu kini dianggap lumrah, bukan karena sehat, tapi karena viral.

Bagian ikonik lainnya dalam buku ini adalah ketika Lembke bertanya pada pasien pengguna ganja:
+ Apakah kamu ingin hidup seperti ini dalam sepuluh tahun?
— Tidak mungkin.
+ Lima tahun?
— Tidak.
+ Satu tahun lagi?
— Sepertinya aku harus berhenti sekarang juga.

Sebulan kemudian, sang pasien berkata:
“Baru setelah berhenti, aku sadar betapa cemasnya ganja membuatku. Aku tidak percaya sudah lima tahun hidup seperti itu.”

Kita Hidup di Era Dopamin

Buku ini memaksa kita bertanya:
Jika kurangnya pengetahuan dan pendidikan bisa menjerumuskan begitu banyak orang, tidakkah kita perlu “membersihkan diri” sebelum semuanya terlambat?

Di era ketika suplai kesenangan tidak terbatas, permintaan pun pasti muncul. Dan di balik semua itu selalu ada pihak yang diuntungkan. Lalu kita bertanya: Apakah ini ketidaktahuan, atau kebutaan yang disengaja? (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/resensi/2571982499/resensi-buku-dopamine-nation-menemukan-keseimbangan-di-era-hedonisme

Rekomendasi