Retoria.id – Buku Magic Words: What to say to get your way karya Jonah Berger, diterbitkan oleh Penerbit Harper Business, adalah sebuah buku tentang kata sebagaimana judulnya Kata-kata Ajaib. Salah satu karya yang dari berbagai sudut mencoba membeberkan satu kebenaran besar.
Bahwa di mana pun dan kapan pun, sejak awal hingga akhir zaman, kata-kata selalu menjadi penentu segala sesuatu. Kata dapat menggiring seorang terpidana menuju tiang gantungan, atau justru menyelimutinya dengan pakaian pengampunan.
Kata dapat mengubah perjanjian kerja yang sederhana menjadi kontrak emas, atau sebaliknya mencekik mati sebuah bisnis potensial sejak dalam kandungan.
Bahasa yang digunakan dalam sebuah konferensi dapat memberi kekuatan kepada perusahaan untuk menentukan harga saham, dan kata-kata CEO dapat memengaruhi tingkat pengembalian investasi. Kata dapat menjadikan Anda pribadi yang berhasil dan persona yang bersinar atau justru menjadi biang kegagalan dan kekecewaan Anda.
Penulis mengemukakan berbagai pertanyaan menarik: bahasa seperti apa yang menopang sebuah startup? Bagaimana seharusnya bahasa digunakan dalam podcast yang ingin menjadi populer? Bagaimana cara mencapai bahasa bersama? Mengapa sebagian karyawan mendapatkan promosi sementara yang lain dipecat? Apa rahasia kesuksesan besar?
Bagaimana memecahkan teka-teki naskah Shakespeare yang berusia tiga abad? Bagaimana kita dapat memprediksi masa depan? Benarkah musik itu misoginis? Apakah polisi bersikap rasis?
Buku ini meneliti ribuan skenario film untuk mengungkap rahasia di balik kesuksesan beberapa film box office. Ia memeriksa puluhan ribu artikel akademik untuk menjelaskan bagaimana menulis karya ilmiah yang berdampak.
Baca Juga: Resensi Buku Dopamine Nation: Menemukan Keseimbangan di era Hedonisme
Ia menganalisis jutaan ulasan daring agar kita memahami bahasa seperti apa yang membentuk kata-kata yang keluar dari mulut kita. Dengan mengamati bahasa yang digunakan di pengadilan dan memperhatikan perdebatan-perdebatan hukum, buku ini mencoba menemukan faktor-faktor yang menentukan kemenangan atau kekalahan sebuah perkara.
Ia menelaah lebih dari 250 ribu lagu demi mengetahui apa yang membuat beberapa lagu lebih populer daripada yang lain—dan sepanjang perjalanan itu, ia memamerkan kekuatan kata-kata magis.
Segala yang kita ucapkan memiliki arti; tetapi beberapa kata lebih berpengaruh daripada yang lain. Kata yang tepat pada waktu yang tepat dapat mengubah pandangan seseorang, menguasai pikiran pendengar, dan memengaruhi keputusan orang lain.
Buku ini mengajarkan bagaimana menyingkirkan kata-kata yang keliru agar Anda dapat, misalnya, naik jabatan dari manajer penjualan menjadi manajer senior.
Anda akan memahami mengapa cara berbicara seorang pengacara sama pentingnya dengan berkas perkara yang ia bawa, serta bagaimana gaya bahasa dapat membuat seseorang tampak dapat dipercaya, kredibel, dan berwibawa. Anda akan melihat bagaimana mengalihkan pertanyaan sulit dan mendorong lawan bicara mengungkapkan informasi sensitif.
Apakah Anda juga kesulitan mempertahankan resolusi awal tahun? Apakah Anda sering berperang dengan diri sendiri untuk tetap setia pada tujuan Anda? Buku ini mengajarkan bahwa alih-alih berkata “saya tidak bisa,” ucapkanlah “saya tidak mau.”
Penulis percaya bahwa menjauh dari bahasa orang pertama yakni menggunakan sapaan “kamu” atau menyebut nama diri ketika berbicara kepada diri sendiri—dapat menjauhkan Anda dari masalah. Karena itu, dalam situasi yang sulit dan penuh tekanan, semakin jauh Anda mengambil jarak dari kata “saya”, semakin aman Anda dari ancaman dan stres.
Dalam buku ini, Anda akan belajar bahwa ketika menghadapi pandangan yang berlawanan, berbicara secara tidak langsung lebih efektif. Alih-alih membombardir lawan bicara sejak awal, doronglah dia untuk membuka pikirannya agar lebih menerima.
Dalam kondisi demikian, mengungkapkan keraguan justru membantu; sebab ketika kita menunjukkan bahwa kita sendiri tidak sepenuhnya yakin, kita tampak kurang mengancam.
Anda juga akan menemukan bahwa pertanyaan-pertanyaan relevan mendorong lawan bicara untuk menjelaskan lebih banyak dan memberikan detail lebih rinci.
Buku ini mengajarkan bagaimana menghindari pertanyaan sulit dengan mengalihkannya menggunakan pertanyaan lain yang tetap relevan karena pengalihan, ternyata, adalah cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman.
Namun, bagaimana membuat orang bersedia mengungkapkan informasi negatif, khususnya ketika pengungkapan itu merugikan diri mereka sendiri? Misalnya bagaimana membuat agen properti memberi tahu kekurangan sebuah rumah atau lingkungan, atau membuat penjual laptop dan ponsel jujur mengenai kelemahan produknya? Bacalah buku ini dengan saksama dan nikmati trik sederhana yang akan Anda pelajari.
Cuplikan dari buku Magic Words
Pertanyaan yang relevan memang ampuh; namun jenis pertanyaan lain pun dapat berguna sesuai situasinya. Bayangkan Anda mengikuti sebuah wawancara kerja yang membuat Anda sangat bersemangat.
Anda sedang mencari peluang baru untuk membuktikan kemampuan Anda, dan pekerjaan itu tampaknya adalah kesempatan yang tepat. Perusahaannya kuat dan posisinya menjanjikan. Singkatnya, jalan karier yang cerah seolah terbentang di depan Anda.
Wawancara dimulai dengan baik, dan pewawancara tampak menyukai Anda. Namun tak lama kemudian suasananya berubah. Setelah menanyakan pengalaman dan keterampilan Anda untuk pekerjaan tersebut, ia tiba-tiba bertanya: “Berapa gaji Anda di pekerjaan sebelumnya?”
Pertanyaan-pertanyaan sulit seperti inilah yang sering muncul. Dalam negosiasi, calon pembeli sering ditanya: “Berapa banyak yang ingin Anda keluarkan?” Saat menjual mobil, penjual ditanya riwayat perbaikan kendaraan.
Dalam wawancara kerja, pelamar ditanya mengapa mereka meninggalkan pekerjaan lama atau apakah mereka memiliki tawaran lain. Bahkan terkadang muncul pertanyaan seperti: “Kapan Anda berencana punya anak?”
Situasi seperti ini tidak nyaman, menjengkelkan, bahkan terkadang ilegal; namun kita tampaknya tak bisa menghindarinya.
Reaksi pertama yang sering muncul adalah: menjawab dengan jujur. Menjawab langsung, lengkap, dan apa adanya.
Namun langkah itu punya konsekuensinya. Dalam negosiasi, pihak yang membuka informasi pribadi bisa dimanfaatkan. Dalam wawancara kerja, orang yang jujur tentang gaji sebelumnya, alasan keluar, atau rencana memiliki anak bisa saja diberi tawaran lebih rendah atau bahkan ditolak.
Kejujuran yang lugas sering kali menempatkan kita dalam posisi sulit. Namun pilihan kita tampak terbatas. Pewawancara biasanya tidak menyukai kandidat yang menghindari pertanyaan. Selain itu, ketika kita menolak menjawab untuk menyembunyikan informasi sensitif, sikap itu justru membuat keadaan tampak lebih buruk.
Misalnya ketika ditanya mengapa kita meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan kita menjawab “saya memilih untuk tidak menjawab,” itu justru memberi kesan bahwa ada hal negatif yang sedang kita tutupi.
Berbohong juga bukan pilihan ideal. Kita dapat menghilangkan sebagian informasi atau bahkan berbohong besar-besaran, tetapi tipu daya bukan hanya tidak jujur jika ketahuan, akibatnya bisa fatal. Secara umum, tampaknya kita memang tidak punya banyak pilihan ketika harus menjawab pertanyaan sulit yang sangat langsung. (*)