Continental Drift dan Peran Gunung Menyeimbangkan Bumi

Continental Drift dan Peran Gunung Menyeimbangkan Bumi

Kalau kalian pernah nonton Ice Age 4, pasti kenal dengan adegan ini. Ketika si tupai yang menjadi ikconnya Ice Age tiba-tiba terperosok masuk ke dalam inti bumi. Lucunya dia tidak sengaja memutar inti bumi yang membuat benua yang tadinya menyatu jadi terpisah-pisah sehingga akhirnya membentuk benua-benua yang kita kenal sekarang. Ya tentu ini hanya film. Masa gara-gara seekor tupai daratan bisa bergeser?

Tapi, Guys, bergesernya benua ini tidak bercanda karena film ini terinspirasi dari teori terkenal dalam geologi yang disebut Continal Drift. Sama seperti judul filmnya, Ice Age 4, Continal Drift. Teori ini mengatakan bahwa dulu sekitar 250 juta tahun yang lalu, bumi pada awalnya hanya punya satu benua yang disebut Pangea tapi satu benua ini kemudian terpecah-pecah dan bergeser selama jutaan tahun hingga akhirnya menjadi benua-benua yang ada sekarang. Teori ini diperkenalkan oleh Alfred Wagner, seorang ahli geologi Jerman pada tahun 1912 dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans.

Dalam bukunya ini, dia membeberkan banyak bukti yang menunjukkan bahwa benua-benua yang ada sekarang dulunya adalah satu. Awalnya para ilmuwan lain pun tidak percaya ya, masa daratan bisa bergeser seperti rakit.

Tapi lama-kelamaan teori ini semakin masuk akal setelah ditemukannya penelitian tentang lempeng tektonik bahwa sebetulnya tanah yang kita injak sebenarnya tidak benar-benar diam tapi terus bergerak hingga hari ini. Mengapa? Karena tanah ini sebetulnya mengapung di atas batuan cair. Buktinya kita bisa merasakan gempa. Gempa adalah bukti bahwa tanah itu bergeser. Nah, jadi bumi tidak sesolid yang kalian bayangkan. Bahkan dengan mudah tanah bisa goyang, patah, atau retak.

Lalu mengapa kita bisa berjalan di bumi dengan tenang? Seolah-olah bumi diam. Sekalipun terjadi gempa, tapi itu tidak membuat bumi berguncang seluruhnya. Di situlah fungsi gunung. Gunung berfungsi sebagai peredam sehingga kita tidak terlalu merasakan apa yang terjadi di bawah kaki kita alias gunung berfungsi sebagai pasak.

Bagaimana bisa seperti itu? Simak artikel ini sampai habis. Nanti kalian akan paham. Karena itu guys, siapkan akalnya dan siapkan imannya karena kita akan masuk pada kajian yang bisa membuat kalian gila.

Kalau kalian awam dengan geologi, mungkin kalian menganggap bumi itu isinya cuman tanah dan batu. Padahal kalian tahu ketika Gunung Merapi meletus, dia mengeluarkan cairan kental yang panas yang sering kalian sebut lahar. Sesungguhnya itulah isi perut bumi. Secara sederhana bumi memiliki tiga lapisan. Kerak bumi, mantel, dan inti bumi. Persis seperti ketika si tupai jatuh ke inti bumi.

Lapisan pertama disebut crust atau kerak bumi. Inilah lapisan padat yang kita injak. Tapi perhatikan bahwa tebal kerak bumi hanya sejauh 100 km. Bandingkan dengan kedalaman bumi yang mencapai 6.000-an km, maka kerak bumi itu tipis sekali.

Tipis seperti cangkang telur dibandingkan dengan keseluruhan telurnya. Sedangkan di bawah kerak bumi ada lapisan yang disebut mantel. Mantel ini tidak padat tapi kental yang kadang keluar ke permukaan bumi berupa lahar tadi. Itu sebabnya sebagian lapisan ini disebut astenosphere. Asteno itu lemah. Shar itu bola. Artinya ini adalah lapisan yang paling lemah atau paling lunak.

Nah, fakta ini dulu tidak diketahui sampai Alfred Wagner mengemukakan teori continal drift atau pergeseran benua seperti yang kita bahas di awal. Waktu itu Alfred Wagner tidak tahu apa penyebab bergesernya benua-benua ini sampai ditemukannya teori tentang lempeng tektonik bahwa permukaan bumi baik yang di darat maupun yang di laut sesungguhnya hanyalah potongan-potongan lempengan kerak bumi.

Hampir seperti pecahan keramik yang kemudian kalian satukan kembali. Bisa kalian lihat di gambar garis-garis pemisah itu adalah potongan-potongan lempengan kerak bumi di seluruh dunia hasil penelitian para ahli geologi kalau dilihat memang seperti puzzle. Salah satu potongannya melalui Indonesia seperti Patahan Lembang atau Cesar Lembang.

Nah, mungkin kalian bertanya kok potongannya sampai ke laut tidak mengikuti bentuk benua? Ya, karena dasarnya laut pun adalah kerak bumi juga. Makanya dikenal dua jenis kerak bumi, yaitu kerak bumi darat dan kerak bumi laut. Itu sebabnya gempa pun tidak hanya terjadi di darat, tapi juga di laut ketika dua lempengan teradu seperti yang terjadi pada tsunami Aceh.

Ya, intinya, Guys, dengan fakta-fakta ini bahwa kerak bumi itu tipis dan di bawahnya adalah lapisan lunak. Ditambah kerak bumi berupa potongan-potongan atau patahan-patahan, maka kalau dipikir-pikir ngeri juga. Bayangkan kalian seperti berada di sebuah rakit raksasa yang terombang-ambing di atas air. Tentu kalau ada sesuatu yang bergerak dari bawah, kita akan merasakan guncangannya. Dan faktanya, aktivitas tektonik di bawah kaki kita itu tidak terjadi hanya pada saat gempa saja. Mengapa? Karena lapisan mantel itu panas dipanaskan oleh inti bumi yang terus aktif karena reaksi nuklir. Akibatnya ada aliran panas yang disebut aliran konveksi yang terus-menerus berputar di sekitaran mantel. Itulah yang menyebabkan lempengan kerak bumi bisa bergerak. Pertanyaannya, mengapa bumi tetap stabil? Nah, sekarang kita bahas bagaimana gunung-gunung berperan untuk menstabilkan bumi.

Nah, supaya kalian paham bagaimana gunung-gunung bisa menstabilkan bumi, kita akan bahas satu penemuan mengejutkan di tahun 1800-an. Kalian tahu Gunung Everest? Nama Everest diambil dari orang ini, George Everest. Dia adalah ahli geologi dari Inggris. Di tahun 1800-an saat India dijajah Inggris, dia mencoba memetakan seluruh India. Yang namanya pemetaan, otomatis mereka harus melakukannya menggunakan alat ini. Alat yang biasa digunakan oleh kontraktor untuk mengukur tanah. Nah, alat ini mempunyai bandul di bawahnya yang sering disebut plumbob. Fungsinya untuk memastikan bahwa alat ini tegak lurus dengan permukaan tanah ketika kita mengukur sesuai hukum gravitasi.

Nah, suatu waktu Everest dan timnya gagal melakukan pemetaan karena hasilnya selalu berbeda dengan pemetaan metode lainnya. Dia curiga itu gara-gara dia mengukurnya terlalu dekat dengan pegunungan Himalaya. Loh, memang apa hubungannya? Yang namanya gunung massanya pasti besar. Kalau massanya besar berdasarkan hukum gravitasinya Newton, gravitasinya akan menyerong ke gunung daripada lurus ke bawah. Nah, menurut Everest itulah yang menyimpangkan bandulnya sehingga pengukurannya tidak akurat. Namun ternyata Everest salah. Setelah diteliti ulang, ternyata bandulnya tidak menyimpang. Kalaupun menyimpang, tidak sebesar yang diperkirakan Everest.

Nah, fakta ini mengejutkan para ahli geologi. Mengapa? Karena gunung yang segitu besarnya kok gravitasinya tetap normal. Seolah-olah gunung itu kopong. Nah, fenomena ini kemudian dipelajari oleh dua orang. George Bidal Iri dan John Henry Prett. Mereka menyimpulkan bahwa ini tidak mungkin terjadi kecuali di bawah gunung itu ada masa yang besar yang mengarah ke bawah. Mereka menyebutnya akar gunung. Jadi hampir seperti gunung es yang kalian lihat di permukaan hanya sebagian kecil saja. Yang lebih besar justru ada di bawahnya.

Nah, fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah isostasi. Isostasi adalah keseimbangan gravitasi karena tinggi rendahnya tanah. Kalian akan paham ini kalau tahu hukum Archimides. Hukum Archimides mengatakan bahwa kalau kalian mencelupkan sebuah benda ke dalam air, maka benda itu akan mengalami gaya apung yang sebanding dengan berat air yang dipindahkan. Tergantung dari massa jenisnya. Kalau massa jenisnya lebih ringan dari air, tentu benda itu akan mengapung. Dan mengapungnya pun tergantung pada dua hal. Seberapa padat bendanya dan seberapa tebal bendanya.

Nah, sekarang perhatikan analogi berikut. Di sini ada dua balok kayu. Yang satu tebal tapi ringan, yang satu tipis tapi lebih berat. Kalau kalian celupkan keduanya, maka yang tipis tapi lebih berat akan cenderung lebih tenggelam dibanding yang lebih tebal tapi lebih ringan. Nah, seperti itulah kerak bumi. Tadi sudah dikatakan bahwa kerak bumi mengapung di atas mantel karena kerak bumi massa jenisnya lebih ringan daripada mantel. Dan tadi sudah dikatakan bahwa kerak bumi itu ada dua jenis, ada yang di darat dan ada yang di laut. Uniknya kerak bumi yang di laut itu lebih padat daripada kerak bumi yang ada di darat. Sehingga kerak bumi yang ada di laut itu lebih rendah posisinya daripada kerak bumi yang ada di darat. Karena kondisi inilah justru kita punya daratan dan lautan. So the thick low density rock of the continents floats high enough in the mantle to stick up out of the ocean and form dry land. Whereas the thin high density rock of the ocean floor sick sags down low in the mantle to sit several miles below sea level.

Intinya isostasi inilah yang menyebabkan bumi seimbang. Isostasi sendiri berasal dari dua kata, iso dan stasi. Iso artinya sama atau seimbang, sedangkan stasi artinya diam. Jadi, isostasi artinya diamnya bumi adalah karena ada keseimbangan gravitasi akibat naik turunnya kontur tanah, apalagi ditambah adanya gunung.

Nah, bicara soal gunung, gunung terbentuk karena adanya pergeseran benua tadi. Jadi, dalam teori tektonic lempeng, lempengan-lempengan kerak bumi bergerak dalam tiga arah gerakan. Ada yang saling menjauh, ada yang saling mendekat, dan ada yang saling bergesekan atau slide. Nah, yang saling mendekat otomatis ada bagian yang saling menimpa. Bayangkan kalian mendekatkan dua lembaran karet. Tentu ada yang menyusup ke bawah, ada yang menyusup ke atas. Lapisan tanah pun jadi bergelombang dan berlipat-lipat.

Otomatis di titik pertemuan itu daratan menjadi lebih tinggi termasuk yang ke bawah juga. Itulah yang menciptakan gunung. Tentu prosesnya tidak terjadi semalam tapi jutaan tahun. Tapi intinya menurut beberapa peneliti, kalau tidak ada pergeseran lempengan ini tentu bumi tidak akan stabil. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Zaglul Elnagar, seorang ahli geologi dari Mesir. Dia mengatakan dalam tulisannya berjudul Gunung Sebagai penyimbang mumi mengatakan bahwa pergerakan lempengan ini terjadi lebih cepat di awal penciptaan bumi dan kemudian melambat seiring terciptanya gunung-gunung dan daratan.

Jadi bayangkan dulu ketika bumi awal terbentuk, bumi tidak seperti sekarang. Bumi mengalami berbagai ancaman dari atas dan dari bawah sehingga bumi kemudian membentuk lapisan-lapisan sebagai pelindung, lapisan langit dan lapisan bumi. Dan kemudian bumi membuat hamparan-hamparan seperti karpet yang kita sebut kerak bumi. Dan kerak bumi ini kemudian menyesuaikan diri dengan menggeser-geser lempengannya sehingga terbentuklah gunung-gunung sebagai patok-patok. Sehingga kerak bumi pun bisa stabil walaupun di bawahnya ada cairan kental yang panas. Jadi manusia diciptakan di saat yang tepat ketika gunung-gunung itu sudah ada dan bumi sudah aman.

Rekomendasi