Retoria.id – Penelitian terbaru membuktikan bahwa peralihan menuju kedewasaan, masuk dunia kerja, dan membangun hubungan pribadi berpengaruh lebih besar terhadap cara kita berbicara dibanding sekadar faktor usia.
Pandangan lama bahwa kebiasaan bahasa hanya ditentukan oleh umur dipatahkan oleh riset linguistik dari Universitas Salzburg. Studi ini menyoroti bagaimana peristiwa penting dalam hidup—seperti mulai bekerja, kuliah, atau memiliki anak—secara nyata membentuk pola bahasa kita.
Dua peneliti, Mason Wirtz dan Simon Pickl, menemukan bahwa pengalaman dan aktivitas pada tiap tahap kehidupan dapat mengubah gaya berbahasa, tanpa bergantung pada usia biologis seseorang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa transisi dari sekolah—di mana bahasa gaul dan ketidakpatuhan sering mendominasi—ke dunia kerja yang menuntut bahasa lebih formal, membawa perubahan kosakata yang jauh lebih besar dibanding perbedaan usia satu-dua tahun.
Baca Juga: Kenapa Bahasa Arab Dinobatkan sebagai Bahasa Paling Komprehensif di Dunia?
Begitu juga dengan pengalaman lain seperti menjalin hubungan, pindah tempat tinggal, atau pensiun, yang sering membuat orang lebih dekat dengan dialek lokal sebagai wujud rasa akrab dan kebersamaan, terlepas dari kelompok usia mereka.
Menariknya, 80 persen responden mengaku pernah mengalami perubahan bahasa akibat peristiwa penting dalam 20 tahun terakhir.
Data memperlihatkan kecenderungan orang beralih ke bahasa baku setelah bekerja atau kuliah, sedangkan pensiun dan pertemanan baru justru mendorong penggunaan dialek.
Kesimpulannya, bukan usia yang paling menentukan, melainkan momen-momen penting dalam hidup yang membentuk pilihan bahasa kita.
Para peneliti menegaskan, temuan ini membuka cara pandang baru bagi studi perubahan bahasa, sekaligus menantang para sosiolinguist untuk lebih menekankan pada fase-fase kehidupan manusia daripada sekadar kategori umur. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/sains/2571579536/perubahan-besar-dalam-hidup-membentuk-kembali-bahasa-kita