Retoria.id – Jika ada pertanyaan yang sederhana sekaligus membingungkan, mungkin pertanyaan itu adalah: dari mana asal air di Bumi?
Selama beberapa dekade, para ilmuwan memperdebatkan hal ini. Sebagian meyakini bahwa air telah terperangkap dalam bebatuan protoplanet sejak awal terbentuknya Bumi. Sementara yang lain berpendapat bahwa air datang belakangan melalui hantaman komet dan asteroid.
Namun kini, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Nature Astronomy menghadirkan pandangan yang lebih menakjubkan: air ternyata tidak lahir bersama Bumi bahkan tidak bersama Matahari. Air telah ada jauh sebelum keduanya terbentuk.
Ditemukan di V883 Orionis: Jejak Air Purba di Langit
Penemuan ini dilakukan melalui sistem teleskop Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Chile. Para astronom meneliti sistem bintang muda bernama V883 Orionis, yang berjarak sekitar 1.300 tahun cahaya dari Bumi.
Sistem tersebut merupakan protobintang yang masih terbungkus “kepompong” gas dan debu, dikelilingi oleh cakram protoplanet potret kosmik yang mengingatkan kita pada tata surya di masa awal, sekitar 4,6 miliar tahun lalu.
Di sana, para ilmuwan tidak hanya mendeteksi air (H₂O), tetapi juga “air berat” (D₂O) jenis molekul air yang hidrogennya digantikan oleh deuterium, isotop hidrogen dengan satu neutron tambahan.
Baca Juga: Daniel Chidiac: Bagaimana Menghadapi Dunia yang Bising?
Signifikansi temuan ini bukan hanya karena keberadaan air itu sendiri, melainkan pada rasio deuterium terhadap hidrogen (D/H). Rasio ini berfungsi layaknya mesin waktu yang melacak asal-usul air di alam semesta.
Air yang Lebih Tua dari Bintang
Para ilmuwan telah mengetahui bahwa air dengan kadar deuterium tinggi hanya dapat terbentuk di wilayah paling dingin di ruang antarbintang di dalam nebula padat tempat lahirnya bintang-bintang. Secara teori, ketika nebula tersebut runtuh dan memicu kelahiran bintang, panas ekstrem seharusnya menghancurkan molekul air purba itu.
Namun pengamatan ALMA menunjukkan hal mengejutkan: air di sekitar V883 Orionis masih memiliki rasio D/H yang sama dengan air di nebula purba. Dengan kata lain, air itu telah ada sebelum bintang tersebut lahir.
Baca Juga: Kuil Berusia 1.500 Tahun Ditemukan di Qanqa, Ungkap Peradaban Turan Kuno
Peneliti utama, Margot Leemker, menjelaskan bahwa temuan ini membuktikan air yang ditemukan dalam cakram pembentuk planet lebih tua daripada bintang yang menjadi pusatnya. Ini merupakan potongan penting dalam teka-teki kosmik yang menghubungkan air di nebula, air di komet dan asteroid, hingga akhirnya air di lautan Bumi.
Astronom John Tobin, anggota tim peneliti, menyebutnya sebagai “mata rantai yang hilang” bukti bahwa air dapat bertahan melewati proses pembentukan bintang yang ganas, dan berpindah secara utuh ke sistem planet muda. Dengan kata lain, air adalah warisan kosmik diturunkan dari generasi ke generasi keluarga bintang.
DNA Air dan Asal Usul Bumi
Rasio deuterium terhadap hidrogen telah lama dianggap sebagai “DNA” air, jejak kimia yang membantu ilmuwan melacak asalnya.
Misi Rosetta milik Badan Antariksa Eropa (ESA) pada tahun 2014 pernah mengukur rasio D/H pada komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Hasilnya menunjukkan bahwa komet tersebut memiliki kadar deuterium tiga kali lebih tinggi dibandingkan air di lautan Bumi. Artinya, komet kemungkinan besar bukan sumber utama air di planet kita.
Sebaliknya, beberapa asteroid justru memiliki tanda kimia yang lebih cocok dengan air Bumi memperkuat hipotesis bahwa air kita berasal dari bahan purba yang terbentuk jauh sebelum tata surya lahir.
Warisan dari Langit
Temuan di V883 Orionis menegaskan bahwa air adalah bagian dari rantai kehidupan kosmik. Ia bukan sekadar unsur pendukung kehidupan di Bumi, melainkan warisan purba alam semesta yang telah melintasi miliaran tahun dan melewati siklus kelahiran bintang.
Air di gelas yang kita minum hari ini, bisa jadi memiliki jejak yang sama dengan air yang terbentuk di awan antarbintang sebelum Matahari bersinar. (*)
Sumber: https://www.retoria.id/sains/2571742810/penelitian-apokaliptik-air-lebih-tua-dari-bintang