Otak digital paling realistis yang pernah dibuat: Bagaimana superkomputer Fugaku menghidupkan pikiran?

 

Retoria.id – Di sebuah pulau buatan di Kobe, Jepang, di dalam superkomputer Fugaku salah satu yang terkuat di dunia sedang berlangsung sebuah pencapaian ilmiah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jutaan “sel saraf” digital diaktifkan, membentuk korteks otak tikus digital yang sepenuhnya berfungsi dan paling realistis yang pernah dibuat hingga saat ini.

Tim peneliti berhasil melakukan sesuatu yang sampai dianggap mustahil: mereproduksi seluruh korteks otak, lapis demi lapis dan sel demi sel, di dalam sebuah komputer.

Ini bukan model abstrak, melainkan simulasi yang dibangun berdasarkan hukum biofisika nyata yang mengatur kerja otak. Neuron-neuron aktif dan saling terhubung dengan cara yang sangat menyerupai fungsi biologis organisme hidup.

Lompatan Teknologi Fugaku

Inti dari proyek ini adalah superkomputer Fugaku yang mampu menjalankan ratusan kuadriliun perhitungan per detik. Para ilmuwan “menghidupkan” otak digital dengan sekitar sepuluh juta neuron dan miliaran sinapsis yang tersebar di puluhan area. Hasilnya mengesankan, bukan hanya dari skala, tetapi terutama dari tingkat akurasinya.

Baca Juga: Fakta Sains: Apakah Waktu Benar-Benar Relatif Seperti Kata Einstein? Ini Penjelasannya

Menurut para peneliti, terobosan utama bukan terletak pada ukuran model, melainkan pada kesetiaannya terhadap biologi nyata. Untuk pertama kalinya, simulasi ini tidak sekadar meniru fungsi otak, tetapi dibangun berdasarkan struktur biologis aslinya.

Jenis sel, koneksi, dan sifat listriknya diambil dari data anatomi dan fisiologi nyata, sehingga otak digital bekerja karena alasan fisik yang sama seperti otak biologis.

Jendela untuk Memahami Cara Kerja Otak

Salah satu aspek paling menakjubkan dari proyek ini adalah kemampuan observasinya. Ilmuwan dapat menghentikan proses, menjalankannya kembali, memodifikasi koneksi, atau memperbesar tampilan hingga tingkat satu sinapsis.

Dengan begitu, mereka bisa mengamati bagaimana keputusan atau persepsi terbentuk—sesuatu yang mustahil dilakukan pada otak hidup.

Nilai praktisnya sangat besar. Otak digital memungkinkan simulasi berbagai kondisi patologis: apa yang terjadi pada Alzheimer ketika neuron tertentu hilang, pada epilepsi saat koneksi menjadi terlalu sinkron, atau pada autisme ketika keseimbangan sirkuit berubah.

Perubahan kecil yang belum tampak secara klinis dapat dianalisis mendalam untuk menemukan mekanisme dan target terapi baru.

Dari Sains ke Filsafat

Di luar dunia medis, proyek ini juga menyentuh pertanyaan mendasar tentang kesadaran. Jika aktivitas otak dapat direproduksi dengan akurasi tinggi, apa artinya bagi pikiran dan kesadaran? Mungkinkah suatu hari sistem digital seperti ini memiliki pengalaman internal“merasakan” sesuatu?

Para ilmuwan tetap berhati-hati namun terbuka. Mereka berpendapat bahwa pikiran dan kesadaran adalah proses alamiah yang, jika direproduksi dengan setia, mungkin juga muncul dalam bentuk digital.

Namun, mereka menegaskan bahwa medium material, arsitektur, dan interaksi dengan lingkungan bisa memainkan peran penting.

Kritik dan Prospek

Sebagian pakar menilai bahwa meski sangat akurat, simulasi ini masih belum mencakup aspek penting biologi, seperti plastisitas kemampuan otak berubah melalui pengalaman serta sistem kimia yang memengaruhi emosi dan perhatian. Otak, kata mereka, bukan hanya sinyal listrik, tetapi juga kimia, sejarah, dan tubuh.

Meski demikian, proyek ini merupakan tonggak besar. Untuk pertama kalinya, sains memiliki “jendela” yang dapat dibuka selebar yang dibutuhkan untuk menjelajahi otak tanpa batasan.

Terlepas dari apakah ia akan mengungkap hakikat kesadaran atau tidak, otak digital ini telah mengubah cara kita mempelajari organ paling kompleks dalam tubuh manusia.

Mungkin, seperti yang sering terjadi dalam sains, penemuan terbesarnya bukanlah jawabannya, melainkan pertanyaan-pertanyaan baru yang kini dapat kita ajukan. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/sains/2572107012/otak-digital-paling-realistis-yang-pernah-dibuat-bagaimana-superkomputer-fugaku-menghidupkan-pikiran

Rekomendasi