Retoria.id – Pendidikan dasar di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya terkait kondisi sarana dan prasarana sekolah. Di Desa Buruk, Nusa Tenggara Timur, ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) An Nur kini tidak bisa digunakan karena atap bangunan nyaris roboh.
Belajar dengan Sistem Bergantian
Kerusakan pada ruang kelas menyebabkan siswa-siswi MI An Nur tidak bisa belajar secara normal. Untuk tetap melanjutkan proses pembelajaran, mereka terpaksa menggunakan sistem bergantian dengan kelas lain. Sementara sebagian siswa menempati ruang belajar yang masih layak, yang lain harus menunggu giliran.
Kondisi ini tentu berdampak pada efektivitas proses belajar mengajar. Anak-anak tidak bisa belajar secara bersamaan, waktu pembelajaran menjadi lebih terbatas, dan guru harus menyesuaikan metode mengajar agar tetap bisa mencakup semua murid.
Baca Juga: Kesempatan Emas: Beasiswa Hingga Rp18 Juta per Semester Tanpa Syarat IPK atau Prestasi
Risiko Keselamatan
Selain mengganggu kegiatan belajar, kondisi atap yang nyaris roboh juga menimbulkan risiko keselamatan. Bangunan sekolah yang tidak kokoh sangat berbahaya apabila tetap digunakan, terutama saat cuaca ekstrem melanda. Potensi kecelakaan akibat runtuhnya material bangunan bisa mengancam keselamatan siswa maupun tenaga pengajar.
Potret Kesenjangan Pendidikan di Daerah
Kasus yang menimpa MI An Nur bukanlah satu-satunya di Indonesia. Masih banyak sekolah, terutama di wilayah pelosok, yang menghadapi keterbatasan sarana prasarana. Menurut data Kementerian Pendidikan, ribuan ruang kelas di berbagai daerah tercatat dalam kondisi rusak ringan hingga berat.
Kesenjangan infrastruktur ini menunjukkan bahwa upaya pemerataan pendidikan belum sepenuhnya tercapai. Padahal, kualitas fasilitas belajar memiliki peran penting dalam menunjang kualitas pendidikan serta kenyamanan siswa di sekolah.
Baca Juga: Menyeberang Nyawa demi Sekolah: Kisah Murid di Ujung Timur Maluku
Harapan untuk Perbaikan
Meski menghadapi keterbatasan, siswa-siswi MI An Nur tetap bersemangat mengikuti kegiatan belajar dengan segala kondisi yang ada. Mereka berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat segera melakukan renovasi agar dapat kembali belajar dengan aman dan nyaman.
Guru dan orang tua juga terus berusaha menjaga motivasi anak-anak agar tetap semangat mengejar pendidikan, meski harus menghadapi keterbatasan fasilitas.
Kisah siswa-siswi MI An Nur Desa Buruk, NTT, yang harus belajar bergantian karena atap kelas nyaris roboh, menjadi potret nyata tantangan pendidikan di daerah. Fasilitas yang tidak layak bukan hanya menghambat proses belajar, tetapi juga membahayakan keselamatan anak-anak.
Peningkatan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil perlu menjadi perhatian serius agar setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, dapat menikmati hak belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas.