Retoria.id – Anak-anak di Desa Waimanu, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya bisa merasakan belajar di ruang kelas yang aman dan layak. PAUD Sehati, yang menaungi 30 murid dengan tiga tenaga pengajar, kini memiliki gedung sekolah baru setelah bertahun-tahun menjalani proses belajar mengajar dalam kondisi serba terbatas.
Sebelumnya, anak-anak PAUD Sehati harus berpindah-pindah tempat belajar. Mereka pernah bersekolah di teras gereja, lalu menempati bangunan bambu beratap asbes tanpa toilet maupun fasilitas dasar. Kondisi ini tentu tidak ideal bagi tumbuh kembang anak-anak, terlebih di usia emas pendidikan mereka.
Baca Juga: Kondisi Memprihatinkan: Siswa MI An Nur NTT Terpaksa Bergantian Kelas Akibat Atap Nyaris Roboh
Kini, berkat inisiatif sosial yang digagas oleh Sulianto Indria Putra, sebuah gedung baru berdiri untuk PAUD Sehati. Fasilitas ini dilengkapi dengan dua ruang kelas, toilet, furnitur, mainan edukatif, serta area bermain. Kehadiran sekolah baru tersebut menjadi simbol harapan bagi masyarakat setempat, bahwa pendidikan anak usia dini di pelosok Sumba tidak lagi dipandang sebelah mata.
Sulianto mengungkapkan bahwa inspirasinya datang dari sosok Timothy Ronald, yang sebelumnya banyak berkontribusi membangun sekolah di berbagai daerah. “Walaupun belum sebanyak yang Ko Timothy bangun, saya percaya semua hal besar dimulai dari langkah kecil. Start small, tapi konsisten,” ujar Sulianto.
Baca Juga: Kesempatan Emas: Beasiswa Hingga Rp18 Juta per Semester Tanpa Syarat IPK atau Prestasi
Peresmian gedung PAUD Sehati bukan hanya sekadar pembangunan fisik, melainkan juga sebuah investasi sosial yang berdampak jangka panjang. Anak-anak di Desa Waimanu kini bisa belajar dengan lebih nyaman, sementara para guru dapat mengajar dengan lebih maksimal.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa partisipasi individu, sekecil apa pun, mampu membawa perubahan nyata. Ketika kepedulian diwujudkan dalam tindakan, langkah kecil bisa menjadi awal dari dampak besar bagi generasi penerus bangsa.