Yasraf Amir Piliang: Dunia yang Dilipat, Visual Culture, Noise, dan Gen Z

Retoria.id Di era informasi digital dan visual culture, perhatian audiens menjadi komoditas yang sangat berharga. Dalam sesi Dunia Yang Dilipat edisi Gen Z episode 5 bertajuk “Noise”.

Prof. Yasraf Amir Piliang menyoroti fenomena yang sering kita temui: orang mudah salah fokus atau terdistraksi dari pesan utama yang disampaikan.

Diskusi dimulai dari hal sederhana: sebuah foto dengan latar belakang yang menarik, tetapi perhatian penonton justru tertuju pada meja di ruangan tersebut.

Prof. Yasraf menjelaskan, fenomena ini bukan sekadar kelalaian individu, melainkan bentuk noise dalam komunikasi—gangguan yang bisa datang dari apa saja, baik suara, benda, orang, maupun visual.

Ia menekankan bahwa noise adalah bagian alami dari proses komunikasi, bahkan dalam konteks sehari-hari, seperti saat memasak popcorn, di mana kehadiran plastik merah menjadi parasit informasi yang menarik perhatian audiens lebih dari konten utama, yaitu cara memasak.

Baca Juga: Debat Klasik Seputar Keberadaan Tuhan: Dua Penafian Bukanlah Sebuah Tasybih

Prof. Yasraf membagi noise menjadi dua tipe: pertama, gangguan yang jelas menghalangi pesan utama sampai ke penerima, seperti suara bising atau visual yang mengganggu.

Kedua, noise yang menjadi parasit—informasi yang menumpang pada komunikasi utama dan justru “hidup sendiri”, menarik perhatian audiens lebih besar daripada pesan asli.

Fenomena ini terlihat pula pada video yang menampilkan seorang figur utama, tetapi perhatian penonton beralih pada figur pendukung atau atribut visual yang mencolok, misalnya pakaian atau gestur yang unik.

Menariknya, menurut Prof. Yasraf, noise tidak selalu bernilai negatif. Dalam dunia bisnis maupun strategi komunikasi, gangguan ini bisa menjadi sarana efektif untuk menarik perhatian (grabbing attention).

Bahkan dalam konteks perang, noise dapat menjadi strategi: memancing perhatian lawan agar lengah. Hal ini menekankan bahwa dampak noise bergantung pada konteks dan tujuan komunikator.

Dalam pembahasan lebih lanjut, Prof. Yasraf menyoroti fenomena “personal branding” yang tak disengaja. Sebagai contoh, seseorang mengenakan jilbab unik yang awalnya mungkin tidak dirancang untuk menarik perhatian, tetapi akhirnya menjadi magnet perhatian publik.

Kejadian ini menunjukkan bahwa komunikasi efektif tidak selalu by design—kadang hal yang tidak terencana justru mampu menjadi pusat perhatian.

Prof. Yasraf menutup diskusi dengan mengingatkan pentingnya memahami mood audiens. Di era visual culture, perhatian publik tidak hanya ditangkap melalui kata-kata, tetapi juga melalui simbol, gestur, dan atribut visual.

Strategi komunikasi yang berhasil adalah yang mampu menyesuaikan diri dengan mood audiens, memanfaatkan noise sebagai peluang untuk menarik perhatian, dan menjadikan pesan tetap efektif di tengah distraksi.

Baca Juga: 4 Fakta Skandal Kuota Haji 2024, KPK Bongkar Modus Oknum Pemeras Khalid Basalamah

Bagi yang ingin memahami lebih jauh konsep ini, Prof. Yasraf menyiapkan materi lengkap dalam bukunya Setelah Dunia Yang Dilipat, yang membahas noise dalam komunikasi sehari-hari maupun komunikasi yang lebih luas, termasuk melalui benda dan fenomena visual. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/pendidikan/2571591185/yasraf-amir-piliang-dunia-yang-dilipat-visual-culture-noise-dan-gen-z

Rekomendasi