Fakta Guru di Makassar Takut Langgar HAM, Biarkan Siswa Merokok di Sampingnya

Retoria.id — Di tengah kritik publik dan tayangan Trans7 yang menyangsikan adab serta penghormatan santri di pesantren sebagai bentuk feodalisme kultural, berita berbeda datang dari Makassar sebuah potret yang memperlihatkan kontras seorang siswa SMA merokok di hadapan gurunya dengan kaki terangkat di atas meja, sementara sang guru hanya diam.

Foto itu diambil di salah satu ruang kelas SMA Ilham Makassar. Dalam gambar yang cepat beredar di media sosial, tampak guru bernama Ambo duduk di samping muridnya tanpa ekspresi, sementara murid tersebut memegang rokok dengan santai. Banyak warganet menganggap foto itu sebagai simbol lunturnya wibawa guru dan krisis etika di sekolah-sekolah modern.

Namun penjelasan dari Ambo justru menyingkap sisi lain dari persoalan ini. Ia mengaku tidak bermaksud membiarkan perilaku tersebut. Saat itu, jam pelajaran sudah berakhir, dan muridnya datang untuk belajar membaca puisi.

Ia tidak menyadari rokok di tangan muridnya ketika foto diambil. “Saya sempat menegur pelan agar dia menurunkan kakinya. Tapi sekarang guru salah sedikit saja bisa dibilang melanggar HAM,” ujar Ambo saat diklarifikasi pihak Dinas Pendidikan Makassar.

Baca Juga: Akar Masalah dan Kronologi Ratusan Siswa SMAN 1 Cimarga Mogok Sekolah

Dinas Pendidikan Kota Makassar segera turun tangan dan memanggil guru serta siswa untuk pembinaan. Mereka menegaskan bahwa sekolah tetap menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar tempat mentransfer ilmu.

“Guru harus tetap menjaga wibawa, tapi juga paham batasan agar tidak disalahartikan sebagai kekerasan atau pelanggaran HAM,” ujar perwakilan Disdik.

Kasus ini dengan cepat memantik diskusi nasional. Banyak warganet membandingkan ironi antara “adab pesantren yang dituduh berlebihan” dan “murid sekolah umum yang kehilangan rasa hormat.”

Jika di pesantren seorang santri mencium tangan kiai dianggap tunduk berlebihan, di sekolah umum justru guru menjadi sosok yang takut menegur karena khawatir dituduh mengekang kebebasan siswa.

Fenomena ini menyimpan dilematis baru dalam dunia pendidikan Indonesia bagaimana menjaga keseimbangan antara hak asasi dan kewibawaan, antara kebebasan dan tata krama, antara cinta belajar dan penghormatan kepada guru.

Bagi banyak orang tua dan pendidik, kasus di Makassar bukan sekadar insiden etika, melainkan cermin dari krisis nilai yang lebih luas. Di era digital yang memuja ekspresi bebas, adab dan rasa hormat mulai dianggap kuno padahal keduanya adalah akar dari kebijaksanaan. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/pendidikan/2571699505/fakta-guru-di-makassar-takut-langgar-ham-biarkan-siswa-merokok-di-sampingnya

Rekomendasi