Retoria.id – Selama lebih dari dua dekade, guru honorer seperti Pak Agustinus telah menjalani peran yang jauh melampaui tugas formal mengajar di kelas.
Mereka bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan figur pendidik yang membentuk karakter, orang tua kedua yang memberi perhatian, serta tumpuan harapan bagi anak-anak di wilayah pedesaan yang kerap luput dari sorotan kebijakan.
Baca Juga: Mengajar Belasan Tahun tapi Gaji Rp200 Ribu, Viral Guru PAUD Bongkar Pendapatan Sebulan
Di tengah keterbatasan sarana pendidikan dan minimnya fasilitas penunjang, para guru honorer tetap setia hadir setiap hari di ruang kelas.
Dengan penghasilan yang jauh dari kata layak, mereka menjalani rutinitas mengajar bukan atas dasar keuntungan materi, melainkan karena panggilan pengabdian dan tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi muda.
Ironisnya, di saat berbagai program baru terus diperkenalkan oleh pemerintah, persoalan lama yang membelit guru honorer seolah tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Baca Juga: Sebut Upah Guru Honorer Tak Capai UMR, Ferry Irwandi: Ada yang Hanya Digaji Rp60.000 per Bulan
Kebijakan efisiensi anggaran dan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, justru berdampak pada pemotongan gaji yang diterima Pak Agustinus, meski masa pengabdiannya telah mencapai 23 tahun.
Kondisi ini memperlihatkan jurang antara ambisi program dan realitas kesejahteraan tenaga pendidik di lapangan.
Padahal, pendidikan sejak lama diakui sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Tanpa pendidik yang sejahtera dan dihargai secara layak, cita-cita peningkatan kualitas sumber daya manusia akan sulit diwujudkan.
Karena itu, banyak kalangan menilai bahwa jika negara benar-benar serius membangun manusia Indonesia, maka nasib guru honorer seharusnya ditempatkan sebagai prioritas kebijakan, bukan sekadar agenda rutin yang dibahas setiap tahun tanpa solusi konkret.
Kisah yang dialami Pak Agustinus menjadi cermin betapa kebijakan publik tidak hanya berkaitan dengan angka dan laporan anggaran, tetapi juga menyangkut kehidupan manusia nyata yang bertahan dengan kesabaran dan ketulusan.
Di balik setiap kebijakan efisiensi, terdapat wajah-wajah pengabdian yang terus berjuang agar pendidikan tetap hidup di ruang-ruang kelas sederhana di pelosok negeri. (*)