• Advertise
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
Retoria.id
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Retoria.id
No Result
View All Result

Pangeran Hisahito: Sosok yang Mungkin Menjadi Kaisar Terakhir Jepang

Jurnalis Retoria by Jurnalis Retoria
10 September 2025
in Internasional
0

Retoria.id – Di tengah tradisi dan modernitas yang saling beradu, Pangeran Hisahito menempati posisi unik sebagai warisan hidup satu milenium monarki Jepang. Namun, di balik senyuman dan upacara kebesaran, ada pertanyaan mendesak: apakah ia bakal menjadi kaisar terakhir di bawah aturan suksesi yang berlaku?

Lahir di Tengah Krisis Suksesi

Lahir pada 6 September 2006, Pangeran Hisahito menjadi pria pertama dalam keluarga kekaisaran yang mencapai kedewasaan sejak tahun 1985, saat ayahnya, Pangeran Fumihito, resmi beranjak dewasa . Ia saat ini menempati posisi kedua dalam garis suksesi setelah sang ayah.

Ilmuwan dan Pecinta Alam

Kini berusia 19 tahun, Pangeran Hisahito menekuni studi biologi di Universitas Tsukuba. Ia dikenal sebagai pecinta serangga—terutama capung—dan telah ikut menulis makalah akademis mengenai konservasi serangga di lingkungan perkotaan .

Baca Juga: Breaking News: Serangan Israel di Doha, Qatar Guncang Diplomasi Global

Dalam konferensi pers pertamanya di bulan Maret, ia menyatakan niatnya untuk memenuhi tugas-tugas kerajaan dengan sungguh-sungguh, sambil tetap mendalami studinya. Ia juga mencontohkan kesukaannya terhadap berkebun, khususnya menanam sayuran dan padi yang kerap dirusak hama dan burung, namun memberikan kepuasan besar saat bisa dipanen dan dinikmati bersama keluarga .

Menjadi yang Terakhir?

Aturan suksesi Kekaisaran Jepang melarang wanita menduduki tahta, dan saat ini tidak ada calon lelaki lain yang tersedia dalam generasi muda selain Hisahito. Hal ini menandakan bahwa ia bisa menjadi kaisar terakhir jika aturan tak berubah .

Publik mendukung reformasi yang memungkinkan perempuan seperti Putri Aiko, satu-satunya anak kaisar Naruhito, untuk naik tahta. Namun, perdebatan berjalan belum tuntas, karena konservatisme politik masih sangat kuat.

Ketegangan antara Tradisi dan Masa Depan

  • Sukesi Lelaki Eksklusif Membatasi calon pengganti, menempatkan Hisahito sebagai satu-satunya harapan.
  • Perdebatan Reformasi Usulan membuka suksesi untuk perempuan atau mengembalikan status kerajaan bagi pengantin perempuan stagnan.
  • Tekanan Warisan Hisahito dituntut menyeimbangkan peran simbol negara dan kehidupan pribadinya sebagai pelajar dan ilmuwan muda.

Ringkasan kisah ini menyoroti kompleksitas di balik pewarisan tahta Jepang: tradisi berusia ribuan tahun menghadapi tekanan demografi dan tuntutan modernitas. Di tengah itu, Pangeran Hisahito berdiri sebagai jembatan—mengerahkan harapan, sekaligus menyimpan beban ambisi tak kasatmata generasi berikutnya.

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2571563175/pangeran-hisahito-sosok-yang-mungkin-menjadi-kaisar-terakhir-jepang

Tags: KaisarKekaisaran JepangPangeran HisahitoSuksesiuniversitas tsukuba
Previous Post

Perbedaan Teori Kasab dan Ash Shalah Wa al Ashlah: Imam al Asy’ari dan mandegnya keledai Imam al Juba’i

Next Post

Pemberontakan Pemuda Nepal dan Tren Nepokids: Flexing Anak Elite Politik yang Memicu Amarah Jalanan

Next Post

Pemberontakan Pemuda Nepal dan Tren Nepokids: Flexing Anak Elite Politik yang Memicu Amarah Jalanan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.