Retoria.id – Legenda Juventus dan tim nasional Italia, Gianluigi Buffon, kembali menyinggung salah satu perdebatan terbesar dalam sepak bola modern perbandingan antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Namun, Buffon tidak menyeret dua bintang itu ke dalam debat sederhana soal “siapa yang lebih hebat”. Sebaliknya, ia menjelaskan perbedaan peran dan daya pengaruh keduanya di lapangan dari sudut pandang yang lebih mendalam.
Menurut Buffon, keduanya bukanlah pesepak bola dengan cetakan yang sama mereka “berbicara” dalam bahasa sepak bola yang berbeda.
Karena itu, membandingkan mereka semata lewat jumlah gol atau trofi tidak selalu menghadirkan gambaran yang adil.
Dalam pandangan Buffon, Messi adalah pemain serbabisa: ia sekaligus memulai serangan dan menentukan arah permainan.
Dalam banyak situasi, Messi “merangkai” serangan dari area yang lebih dalam, mengandalkan teknik halus ala playmaker, kemampuan membaca permainan, serta kecepatan mengambil keputusan untuk mendorong timnya maju.
Baca Juga: Wayne Rooney: ‘DNA Sejati Manchester United Mulai Terasa Kembali’
Para penggemar sering melihat “keajaiban” Messi pada momen gol. Namun, poin yang ingin ditekankan Buffon adalah bahwa Messi juga menciptakan proses menuju gol itu sendiri ia memulai serangan, mempercepat alurnya, dan membuka ruang.
Sementara Cristiano Ronaldo, menurut Buffon, terutama seiring bertambahnya usia, telah berevolusi menjadi pencetak gol di kotak penalti pada level yang sama sekali berbeda.
Ia tak lagi terlalu sering berlari jauh dari sisi sayap, melakukan rangkaian dribel dan trik, atau terus-menerus menghiasi laga dengan tembakan jarak jauh.
Kata kunci di sini adalah efisiensi energi. Ronaldo kini memusatkan tenaganya pada momen paling krusial memilih posisi dan mengeksekusi peluang di dalam kotak penalti. Hasilnya sederhana: di area itu ia “menciptakan” gol, memaksimalkan setiap situasi yang ada.
Inti pandangan Buffon, jika diringkas, adalah sebagai berikut:
Itulah sebabnya menilai keduanya pada satu garis yang sama menjadi sulit yang satu menggerakkan mekanisme kolektif tim, sementara yang lain memastikan hasil akhir lewat sentuhan terakhir yang mematikan. (*)