Retoria.id — Sore menjelang Magrib. Deru mesin berhenti lebih lama dari biasanya. Barisan kendaraan mengular tanpa suara klakson yang saling menyahut. Di salah satu ruas jalan Jakarta Barat, waktu seakan tertahan di antara lampu rem dan hitungan menit berbuka.
Video yang diunggah akun Threads @prajnaparamithaa merekam momen tersebut. Tak ada dialog panjang. Hanya satu kantong berisi makanan ringan yang diulurkan dari satu pengendara ke pengendara lain.
Setiap tangan mengambil sedikit, lalu meneruskannya lagi. Tak ada yang menahan lebih lama. Tak ada yang mengambil lebih dari perlu.
“Di tengah kemacetan Jakbar hari ini, ada momen yang bikin terharu,” tulis pengunggah dalam keterangannya, dikutip Senin, 23 Februari 2026.
Jumlah suka pada video itu terus bertambah—lebih dari 5 ribu sementara di layar, kendaraan tetap tak bergerak. Waktu berbuka tiba, tapi tak semua orang membawa bekal. Plastik itu terus berjalan, dari motor ke motor, dari jendela ke jendela.
Baca Juga: Kawanan Gajah Liar Masuk Mess Karyawan di Riau, Viral Warga Kocar-kacir Lari Selamatkan Diri
Seseorang menulis tentang satu kresek yang dioper ke sana kemari, dengan kesepakatan tak terucap: cukup untuk membatalkan puasa, lalu lanjutkan ke orang berikutnya.
Yang lain mengingatkan bahwa di jalan yang padat dan panas, masih ada tangan yang memilih berbagi.
Ada pula kisah seorang penumpang yang terjebak macet berjam-jam di Rasuna–Tendean. Ia tak membawa minum karena berniat berbuka di tujuan.
Seorang sopir taksi bertanya singkat: puasa atau tidak. Lalu segelas air dan beberapa butir kurma berpindah tempat.
Cerita lain datang dari Daan Mogot minuman dan makanan kecil dibagikan di antara kendaraan yang berhenti.
Bahkan dari dalam KRL, seorang pengguna mengingat Magrib yang lewat dengan seteguk air putih, sebelum seseorang menyodorkan camilan tanpa banyak kata.
Tak ada seruan besar. Tak ada ajakan eksplisit. Hanya tangan-tangan yang bergerak pelan, plastik yang makin ringan isinya, dan waktu berbuka yang akhirnya tiba bersama orang-orang yang semula asing.
Di jalan yang macet, Ramadan tidak hadir sebagai slogan. Ia muncul dalam detail kecil: uluran tangan, jeda singkat, dan keputusan untuk tidak makan sendirian. (*)