Mentan & Bapanas Akui Harga Beras Masih Mahal, Lampaui HET

Retoria.id — Harga beras masih menjadi sorotan utama publik. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bersama Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengakui bahwa meski ada sedikit penurunan, harga beras di pasaran masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Data terbaru menunjukkan harga beras premium nasional rata-rata Rp16.089/kg, atau 7,98% lebih tinggi dari HET Rp14.900/kg. Sementara harga beras medium mencapai Rp14.320/kg, atau 14,56% di atas HET Rp12.500/kg.

Bahkan di Zona 1 — meliputi Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi — harga premium tercatat Rp15.552/kg dan medium Rp13.974/kg, tetap di atas ketentuan resmi pemerintah.

Baca Juga: Banyak Pedagang Pusing-Ogah Jual Beras SPHP, Ini Respons Kemendag

Meski demikian, Mentan menyebut adanya penurunan tipis: harga beras medium turun Rp134/kg dan premium turun Rp153/kg dibanding minggu sebelumnya.

Namun, Amran menilai kondisi ini anomali, sebab harga gabah di tingkat petani justru turun, sementara harga beras di pasaran tetap tinggi.

Ketua Komisi IV DPR, Titiek Soeharto, mengingatkan bahwa kenaikan harga beras membebani daya beli masyarakat. Ia juga menyoroti praktik beras oplosan yang memperkeruh kondisi pasar.

Baca Juga: Beras Premium Kembali Dijual, Harga Turun Bikin Konsumen Lega

“Petani menjual gabah dengan harga di atas HPP, tapi beras di pasar tetap mahal. Ini yang harus segera diatasi pemerintah,” ujar Titiek.

Untuk menekan harga, pemerintah bersama Bulog dan Bapanas mempercepat penyaluran beras melalui program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Operasi pasar kini mencapai 6.000 ton per hari, dengan target distribusi 1,3 juta ton hingga akhir 2025.

Mentan memastikan, langkah ini ditopang oleh subsidi negara agar masyarakat tetap bisa membeli beras dengan harga terjangkau.

Rekomendasi