Retoria.id — Aktivis lingkungan sekaligus akademisi, Muhammad Al Fayyadl atau yang akrab disapa Gus Fayyadl, menyoroti situasi sosial-politik terkini yang dinilai sarat dengan pola represif ala 1998.
Dalam unggahan media sosialnya, dosen Universitas Nurul Jadid itu mengingatkan agar pemerintah tidak terjebak dalam pola lama yang mengedepankan militer dalam menghadapi demonstrasi rakyat.
“Pola-pola ’98 bisa kembali terulang… Tekanan, bahkan penyiksaan kepada demonstran, berlangsung. Kita harus menyepakati: apapun yang terjadi, kondisi Darurat Konstitusi di negeri ini jangan sampai berubah menjadi kondisi Darurat Militer,” tulisnya.
Baca Juga: Pemerintah Tegaskan: Penutupan TikTok Live Bukan Atas Permintaan Pemerintah
Lebih jauh, Gus Fayyadl menilai bahwa akar masalah bangsa bukan lagi sekadar soal figur pemimpin, melainkan sistem dan mentalitas politik yang kronis.
“Pergantian individu atau person… dengan aturan main sistem yang sama (oligarki), tidak akan membawa perubahan besar. Kecuali muncul jiwa-jiwa pemimpin yang berani dan jujur mengubah sistem politik dari nol,” tegasnya, sambil menyebut contoh keberanian Sukarno dan Gus Dur.
Lahir di Probolinggo pada 14 Oktober 1985, Gus Fayyadl menempuh pendidikan di berbagai pesantren, sebelum akhirnya melanjutkan studi filsafat kontemporer di Université Paris 8, Prancis. Di sana, ia aktif berdiskusi dengan mahasiswa lintas negara, sekaligus berkiprah di PCI NU Prancis.
Sepulangnya ke tanah air, ia mengabdi sebagai dosen di Universitas Nurul Jadid. Selain itu, ia dikenal sebagai aktivis lingkungan yang aktif mendampingi korban konflik agraria, sekaligus vokal dalam Front Nahdliyin untuk Kedaulatan SDA (FNKSDA).
Produktif menulis, Gus Fayyadl telah menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Derrida dan Filsafat Negasi, yang menegaskan kedalaman intelektualnya dalam filsafat Barat.
Bagi Gus Fayyadl, perjuangan bukan sekadar di ruang akademik, melainkan juga di lapangan dan ruang publik. Pesannya jelas perubahan sejati hanya akan lahir bila bangsa ini berani melampaui sekadar pergantian orang, menuju perombakan sistem yang lebih adil dan manusiawi. (*)