Retoria.id – Kenaikan harga beras kembali menjadi sorotan publik. Meski stok diklaim aman dan melimpah, harga di pasaran tetap tinggi. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi akhirnya blak-blakan di hadapan DPR, mengungkap siapa sebenarnya “biang kerok” yang membuat harga beras sulit turun.
Harga Gabah Melonjak
Menurut Arief, penyebab utama ada di hulu: harga gabah yang terus menanjak. Jika sebelumnya Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani berada di kisaran Rp5.500–Rp6.000 per kilogram, kini sudah tembus Rp6.500 bahkan Rp7.000–Rp7.400 per kilogram.
“Setiap kenaikan 1 persen harga gabah, harga beras bisa ikut naik sekitar Rp100 per kilogram,” jelas Arief saat rapat dengan Komisi IV DPR, Kamis (4/9).
Kondisi itu membuat harga beras medium sulit dikendalikan di kisaran Rp12.500 per kg sebagaimana target pemerintah.
HET Naik, Pasar Tetap Lebih Tinggi
Sebagai respons, pemerintah merevisi Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium menjadi Rp13.500 per kg di zona 1, dan lebih tinggi di wilayah lainnya. Namun faktanya, harga beras di pasar tetap bertahan di atas HET.
“Ini konsekuensi dari kenaikan harga gabah yang menjadi bahan baku utama,” tambah Arief.
Baca Juga: Titiek Soeharto Tegur Keras Manajemen Cadangan Beras Bulog: Keluarkan Saja!
Dilema Petani dan Konsumen
Kebijakan harga pangan memang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, harga gabah tinggi menguntungkan petani. Namun di sisi lain, harga beras mahal menekan daya beli masyarakat. Arief menekankan perlunya keseimbangan agar petani tetap sejahtera tanpa membuat beras makin sulit dijangkau konsumen.
“Kalau harga gabah naik terus, otomatis beras ikut naik. Kita perlu solusi yang adil bagi kedua pihak,” ujarnya.
Pengakuan terbuka Kepala Bapanas ini menjadi sinyal serius bahwa persoalan harga beras tidak bisa hanya dilihat dari sisi distribusi atau stok. Hulu pertanian, terutama harga gabah, harus menjadi fokus utama. Tanpa kebijakan yang tepat, masyarakat bisa terus terbebani harga tinggi meski lumbung beras nasional penuh.