Retoria.id – Meskipun harga beras tengah menjadi sorotan akibat kenaikan yang terus terjadi, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimis bahwa kondisi pangan di Indonesia masih baik-baik saja. Ia menyampaikan bahwa lonjakan harga beras hanya memberikan kontribusi sangat kecil terhadap inflasi, serta menegaskan bahwa pasokan pangan nasional masih surplus dan terkendali.
Inflasi Terkendali: Kontribusi Pangan Hanya 0,03 Persen
Amran merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa pangsa pangan dalam inflasi nasional hanya sebesar 0,03 persen. Di sisi lain, angka inflasi secara keseluruhan bahkan menurun dari 2,37 persen menjadi 2,31 persen. Ini menjadi sinyal bahwa meski terjadi kenaikan harga beras, secara keseluruhan, stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Baca Juga: Inflasi Pangan Turun ke 2,31 Persen, Mendagri Tito Soroti Penyaluran Beras SPHP
Produksi Melonjak, Impor Beras Nihil
Amran menyampaikan kabar positif mengenai produksi beras nasional. Hingga Oktober 2025, produksi telah mencapai 31 juta ton, meningkat dari 28 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Estimasi hingga akhir tahun bahkan menyebut surplus bisa mencapai 34–35 juta ton.
Yang paling mencolok: hingga saat ini, Indonesia belum melakukan impor beras, berbeda jauh dibanding tahun lalu yang sempat mengimpor antara 3–4 juta ton.
Selain itu, stok beras tahun ini juga lebih besar: sekitar 4 juta ton, dibandingkan stok 1–2 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Operasi Pasar Besar-Besaran Sedang Digencarkan
Untuk mendinginkan harga beras, pemerintah melakukan operasi pasar masif. Melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikelola oleh Bulog, pemerintah telah menyiapkan 1,3 juta ton beras, baik jenis medium maupun premium, untuk disalurkan.
Baca Juga: Bulog Memastikan Beras SPHP Aman dan Layak Dikonsumsi dari Segi Kualitas
Program ini telah menyasar lebih dari 4.000 titik operasi, mencakup 7.282 kecamatan di seluruh Indonesia. Hasilnya: harga beras mulai menunjukkan tren penurunan, meski pemerintah masih terus berupaya menekan harga lebih jauh.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian juga menambahkan, jumlah daerah dengan harga beras yang menurun meningkat dari 51 menjadi 58 kabupaten/kota, sementara pemerintah menargetkan intervensi intensif ke 214 daerah dengan harga di atas acuan.
Meskipun harga beras sedang tinggi dan menjadi sorotan publik, Menteri Amran menegaskan bahwa secara umum kondisi pangan nasional tetap terkendali dan stabil. Daripada menjadi indikator krisis, lonjakan harga justru muncul di tengah surplus produksi, stok aman, dan intervensi pasar yang masif. Pernyataan ini sekaligus menjadi panggilan agar masyarakat memahami dinamika pasar dan tidak panik berlebihan terhadap gejolak harga pangan.