80 Tahun Merdeka: Quraish Shihab Serukan Perubahan Nilai, Bukan Sekadar Pemimpin

Retoria.id – Dalam konferensi pers Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang digelar di Galeri Nasional Jakarta, Kamis (14/8), para tokoh lintas agama, intelektual, dan aktivis masyarakat sipil menyerukan delapan agenda kebangsaan sebagai refleksi kritis atas 80 tahun kemerdekaan Indonesia.

Acara ini menjadi ruang bersama untuk menyalakan kembali “api harapan” menuju bangsa yang adil, demokratis, dan manusiawi—di tengah krisis lingkungan, korupsi struktural, serta ketimpangan ekonomi yang masih membayangi.

Salah satu tokoh yang menyampaikan refleksi mendalam adalah cendekiawan Muslim Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa perubahan sejati dalam kehidupan berbangsa tidak akan terjadi tanpa transformasi nilai yang sungguh-sungguh.

Baca Juga: Refleksi 80 Tahun Republik Indonesia, Gerakan Nurani Bangsa Sampaikan 8 Pesan Kemerdekaan untuk Masa Depan Indonesia

Kritik dan teguran, menurutnya, justru lahir dari cinta terhadap negeri ini.

“Orang tua karena cintanya seringkali menegur dengan keras anaknya. Bahkan masa lalu, saya harap masa kini sudah tidak ada lagi, mereka memukul anaknya itu karena cinta. Demikianlah juga kami, ketika melakukan sesuatu dan mengingatkan, itu sebenarnya lahir dari nurani kami yang terdalam, yang memang sangat mencintai bangsa dan negara ini,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian orang atau pemimpin, tetapi perubahan nilai yang mendasar dalam cara berpikir dan bertindak.

“Kita ingin perubahan positif. Kita tidak inginkan perubahan negatif, dan hemat saya, perubahan yang dimaksud itu adalah perubahan nilai-nilai yang negatif menjadi nilai positif.

Bukan perubahan-perubahan manusianya. Kita telah 80 tahun merdeka, silih berganti manusia dan pimpinan. Boleh jadi kita menilai bahwa yang dulu-dulu atau yang dekat dari yang sekarang ini masih sama dengan yang lalu, walaupun orangnya sudah berbeda,” jelasnya.

Quraish Shihab juga menggarisbawahi pentingnya kapasitas dan kompetensi sebagai syarat mutlak agar nilai-nilai luhur bisa menjadi nyata dalam tindakan.

“Tanpa kemampuan, walaupun nilai ada, tidak akan terjadi perubahan. Dan tanpa kemampuan, tidak akan terwujud sesuatu yang positif. Oleh karena itu, ketika kami menyebut kekurangan-kekurangan dan harapan-harapan itu, kita mengharapkan kiranya terjadi dalam masyarakat kita, terutama pada pimpinan kita, perubahan nilai-nilai negatif yang selama ini terasakan menjadi nilai-nilai positif. Dan kemampuan itu terletak pada kemampuan mendidik diri kita dan anak kita,” pungkasnya.

Acara ini juga diisi ungkapan refleksi dari sejumlah tokoh penting seperti Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, Alissa Wahid, Mgr. Ignatius Suharyo, Romo Magnis Suseno, Nyai Sinta Nuriyah Wahid, Bhikkhu Pannyavaro, hingga Karlina Supelli.

Mereka sepakat bahwa tanpa keberanian moral dan keberpihakan nurani, kemerdekaan akan terus menjadi janji yang belum tuntas ditepati.

Sebagai penutup, GNB merumuskan Delapan Agenda Kemerdekaan, mulai dari penguatan demokrasi substantif, pemberantasan korupsi dan benturan kepentingan, hingga reformasi kebijakan ekonomi dan perlindungan budaya.

Semua ini menjadi seruan terbuka kepada seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya mengenang kemerdekaan, tetapi juga mewujudkannya secara nyata dan bermartabat. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/nasional/2571498939/80-tahun-merdeka-quraish-shihab-serukan-perubahan-nilai-bukan-sekadar-pemimpin

Rekomendasi