Retoria.id – Rasa pesimis semakin terasa di kalangan masyarakat kelas menengah bawah. Lapangan kerja yang terbatas, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi membuat banyak keluarga merasa masa depan semakin suram. Kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa pemulihan ekonomi belum merata dan masih meninggalkan kelompok rentan dalam tekanan.
Pekerjaan Formal Menyusut, Informal Memadat
Pemulihan ekonomi setelah pandemi tidak berjalan seimbang. Perusahaan besar relatif cepat bangkit, tetapi sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja masih tertinggal. Kesempatan kerja formal dengan gaji dan perlindungan sosial yang layak semakin sempit. Akibatnya, banyak orang beralih ke pekerjaan serabutan, usaha mikro, atau ekonomi daring yang pendapatannya tidak menentu.
Pandangan Bank Sentral
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai gejala pesimisme masyarakat kelas menengah bawah sebagai peringatan penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa ketidakpastian global dan tantangan domestik telah menahan pertumbuhan sektor-sektor yang biasanya mampu menyerap tenaga kerja besar. Dari perspektif bank sentral, kondisi ini berpotensi melemahkan daya beli dan menghambat laju pemulihan jika tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat.
Baca Juga: Google PHK Lebih dari 200 Karyawan Secara Mendadak
Tekanan Hidup Semakin Berat
Di tengah lapangan kerja yang terbatas, biaya kebutuhan pokok terus merangkak naik. Banyak rumah tangga kesulitan menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang stagnan atau bahkan menurun. Generasi muda dari keluarga menengah bawah merasakan dampak paling nyata. Lulusan baru sulit menemukan pekerjaan tetap, sehingga banyak yang akhirnya terjun ke sektor informal yang minim jaminan.
Risiko Ekonomi yang Lebih Luas
Ketika optimisme kelas menengah bawah menurun, konsekuensinya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga perekonomian secara keseluruhan. Pelemahan konsumsi rumah tangga dapat menghambat pertumbuhan dan menimbulkan ketidakstabilan sosial. Perry menegaskan bahwa daya beli kelompok ini merupakan motor penting ekonomi domestik; jika dibiarkan melemah, efek domino terhadap sektor lain akan sulit dihindari.
Jalan Pemulihan
Pemerintah didorong memperluas penciptaan lapangan kerja melalui investasi dan penguatan UMKM. Program pelatihan keterampilan, akses modal, dan kebijakan pengendalian harga kebutuhan pokok menjadi langkah penting untuk mengembalikan optimisme. Perlindungan sosial yang inklusif juga krusial agar pekerja informal tidak semakin terpinggirkan.