Retoria.id – Ribuan umat Katolik di Gereja Cengkareng, Paroki Trinitas Jakarta Barat merayakan Minggu Palma menjelang pekan peringatan kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan, Minggu (29/3/2026).
Perarakan Minggu Palma yang berlangsung di pintu utama gereja, berlangsung meriah.
Romo Gregorius Basir Karimanto, OMI, atau biasa umat panggil Romo Basir memimpin misa perarakan Minggu Palma tersebut.
Romo Basir dalam homilinya mengungkapkan setiap Minggu Palma dan Jumat Agung, kisah sengsara selalu dibacakan atau ditampilkan secara visual melalui tablo atau drama dengan maksud bukan untuk melestarikan tindak kekerasan yang terjadi dengan Yesus.
Tetapi justru sebaliknya mengajak semua umat untuk belajar dari sikap Yesus yang tidak menggulirkan kekerasan.
“Kisah sengsara selalu kita dengar atau bacakan pada Minggu Palma dan Jumat Agung. Ini bertujuan bukan untuk melestarikan tindak kekerasan yang terjadi dengan Yesus, tetapi sebaliknya mengajak umat untuk belajar dari sikap Yesus yang tidak menggulirkan kekerasan,” kata Romo Basir.
Pesan yang disampaikan atau ditunjukkan Yesus ini sangat relevan pada situasi saat ini dimana kemanusiaan terkoyak oleh karena perselisihan besar.
Kemajuan bertujuan bukan untuk membantu kemanusiaan, tapi justru menjadi alat penghancur.
Oleh sebab itu, kata Romo, setiap kembali mendengar kisah sengsara Tuhan Yesus, kita diajak untuk membangun kedamaian. Kita sebagai umat kristiani untuk tidak menggulirkan lagi kejahatan, kekerasan dan hal-hal yang melukai kemanusian.
“Mari lah kita sama-sama berjuang untuk menjadi orang yang rendah hati, orang yang tidak menggulirkan kejahatan, kekerasan, tapi menjadi pembawa damai bagi semua umat manusia,” kata Romo Basir mengakhiri homilinya.