Retoria.id – Di tengah sorotan publik di media sosial (medsos) terkait kehidupan pondok pesantren (Ponpes) Lirboyo di Kota Kediri, Jawa Timur, mencuat satu nama besar, KH. Anwar Manshur yang menjadi perhatian.
Sebelumnya diketahui, beredar sebuah tayangan di medsos yang menyinggung kehidupan Ponpes Lirboyo.
Kendati demikian, di balik kontroversi yang kini tengah membayangi Ponpes Lirboyo, ulama sekaligus pengasuh pondok pesantren itu sejatinya dikenal sebagai sosok pejuang ilmu yang dihormati lintas generasi.
Kiai Anwar, begitu ia akrab disapa, merupakan figur yang memancarkan keteduhan dan kebijaksanaan.
Selama puluhan tahun, Anwar Manshur menjadi panutan bagi ribuan santri yang menimba ilmu di Lirboyo, serta menjadi tempat bertanya bagi banyak tokoh bangsa.
Dikenal dengan tutur lembut dan sikap rendah hati, Kiai Anwar juga menjadi simbol keteguhan dalam menjaga tradisi pendidikan Islam klasik. Dari majelisnya di Lirboyo, semangat keilmuan dan akhlak santri terus diwariskan dari masa ke masa.
Baca Juga: Daftar 22 Kampus Tujuan Beasiswa Santri BIB 2025: UGM hingga Lirboyo Jadi Pilihan
Kehadirannya kerap menjadi magnet bagi para tokoh politik dan ulama besar, antara lain, KH. Ma’ruf Amin selaku Mantan Wakil Presiden RI, KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua PBNU, dan Abdul Muhaimin Iskandar yang kini menjabat sebagai Menko Pemberdayaan Masyarakat.
Diketahui, dalam berbagai kesempatan, mereka kerap sowan ke Lirboyo untuk bersilaturahmi dan memohon doa kepada Kiai Anwar.
Berkaca dari hal itu, lantas, apa saja keteladanan yang dimiliki sang pengasuh Ponpes Lirboyo, Kiai Anwar Manshur? Berikut ini ulasannya.
Pewaris Langsung Pendiri Lirboyo
Kiai Anwar tumbuh dalam keluarga ulama besar dan menempuh pendidikan di sejumlah pesantren ternama seperti Pacul Gowang dan Tebuireng Jombang sebelum kembali ke Lirboyo sebagai pengajar tetap.
Berdasarkan catatan biografi LP2M UIT Lirboyo, sejak muda, Kiai Anwar dikenal tekun dan disiplin.
Pengasuh Ponpes Lirboyo itu juga diketahui masih rutin mengajar kitab Dalailul Khairat setiap pagi di Ponpes Lirboyo.
“Lahir pada 1 Maret 1938 di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Anwar Manshur merupakan cucu pendiri pesantren, KH. Abdul Karim,” demikian penuturan biografi Kiai Anwar.
Penjaga Keaslian Tradisi Salaf
Ketika banyak pesantren mulai menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan zaman, KH. Anwar Manshur memilih mempertahankan sistem pendidikan salaf.
Diketahui, Kiai Anwar menolak menambahkan pelajaran umum demi menjaga keaslian ajaran para pendahulu.
“Prinsipnya sederhana tetapi kuat, melestarikan yang lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik,” tulis LP2M UIT Lirboyo.
Bahkan, tawaran dari Kementerian Agama untuk menyesuaikan kurikulum pun pernah datang, namun ia dengan tegas menolak.
“Kami tidak ingin kehilangan ruh salaf yang telah diwariskan oleh para kiai,” tutur Kiai Anwar dalam satu kesempatan di Kediri, pada tahun 2023 lalu.
Keteladanan dan Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan pribadi, KH. Anwar Manshur dikenal sederhana dan teguh.
Dari rumahnya yang sederhana, ia tetap membuka waktu untuk menerima tamu dan memberikan nasihat kepada masyarakat sekitar.
Kepada para santri, ia sering berpesan agar menanamkan akhlak mulia dan menjaga kemurnian niat dalam menuntut ilmu.
“Santri itu bukan hanya pandai membaca kitab, tetapi juga harus berakhlak dan menjaga hati,” pesannya dalam satu pengajian di Lirboyo.
Di mata masyarakat, Kiai Anwar tidak hanya ulama besar, tetapi juga tokoh yang hadir dengan kasih sayang.
Terlebih, pengabdiannya menjadi bukti nyata bahwa keikhlasan dan keteladanan adalah warisan paling berharga bagi generasi santri.(*)