Hamza Yusuf, Nisfu Sya‘ban, dan Tradisi Sunni: Merawat Waktu, Rahmah, dan Kedewasaan dalam Perbedaan

Retoria.id – Di antara dua bulan besar Rajab dan Ramadan, bulan Sya‘ban sering kali hadir sebagai ruang “antara” tidak sekeras Ramadan, tidak seformal Rajab.

Namun justru di ruang inilah, menurut Hamza Yusuf, manusia modern mendapatkan salah satu anugerah paling mahal dalam hidupnya yakni “waktu luang”.

Dalam ceramahnya, Hamza Yusuf menyoroti fase waktu menjelang Ramadan yang kerap jatuh di bulan Sya‘ban sebagai masa ketika sebagian orang dianugerahi kelapangan waktu untuk melakukan hal-hal yang menjadi tujuan penciptaan manusia.

Bukan sekadar waktu kosong, melainkan waktu yang “dibebaskan” dari urusan teknis kehidupan sehari-hari karena ditopang oleh orang lain.

Bagi Hamza Yusuf, kelapangan ini bukan kemewahan sosial, melainkan kesempatan spiritual yang menuntut syukur dan tanggung jawab.

Sya‘ban sebagai Masa Kultivasi Akal dan Ruh

Hamza Yusuf membaca Sya‘ban sebagai fase cultivation, masa menumbuhkan akal dan ruh sebelum memasuki intensitas Ramadan. Inilah waktu persiapan terbaik bukan sekadar latihan puasa, tetapi latihan kesadaran.

Baca Juga: Hamza Yusuf: Kebangkitan Pikiran Zombi Hidup di Luar, Mati di Dalam

Kesadaran bahwa waktu adalah nikmat. Kesadaran bahwa kelapangan hidup adalah amanah. Kesadaran bahwa kita bisa belajar, berpikir, dan mendekat kepada Allah justru karena ada struktur sosial yang memungkinkan kita tidak sibuk dengan urusan paling dasar.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya memandang orang-orang yang melayani kita “dengan mata cinta”. Tanpa mereka, kita tidak akan punya waktu untuk membaca, berzikir, dan merenung.

Perspektif ini menempatkan syukur bukan hanya sebagai ritual lisan, tetapi sebagai etika sosial.

Nisfu Sya‘ban dan Tradisi Sunni

Ketika memasuki pembahasan Nisfu Sya‘ban, Hamza Yusuf tidak mengambil posisi ekstrem. Ia menegaskan bahwa di banyak negeri Sunni, malam Nisfu Sya‘ban dipandang sebagai malam besar dan dimuliakan secara tradisional.

Praktik ini berakar dari masyarakat Syam, yang sejak generasi awal memandang malam tersebut sebagai waktu penuh keutamaan.

Namun ia juga jujur menyebutkan adanya perbedaan pandangan. Imam Ahmad, misalnya, tidak secara khusus merayakan Nisfu Sya‘ban.

Hadis-hadis tentang keutamaannya pun tidak mencapai derajat tertinggi. Meski demikian, praktik memuliakan malam ini tetap menyebar luas dan bahkan diterima dalam mazhab Maliki.

Di titik ini, Hamza Yusuf tidak menawarkan kepastian fikih, melainkan hikmah epistemologis dalam perkara yang diperselisihkan, jangan terburu-buru memvonis.

Prinsip Rahmah: Jalan Tengah dalam Perbedaan

Pernyataan paling penting dalam ceramah ini justru datang dari kutipan pemikiran Ibn Taymiyyah.

Menurut Hamza Yusuf, Ibn Taymiyyah menyampaikan satu prinsip yang sering dilupakan dalam perdebatan keagamaan:

Jika engkau ragu dalam perkara yang berkaitan dengan rahmat Allah, maka condonglah kepada rahmat.

Contoh yang ia angkat sederhana tetapi mendalam: apakah bacaan Al-Qur’an sampai kepada orang yang telah wafat atau tidak? Alih-alih terjebak pada perdebatan teknis, Ibn Taymiyyah memilih pendekatan rahmah anggap saja sampai, karena Allah Maha Pemurah.

Prinsip ini menjadi kunci untuk membaca Nisfu Sya‘ban secara dewasa. Merayakannya bukan kewajiban. Tidak merayakannya juga bukan kesalahan.

Yang keliru justru ketika perbedaan ini kehilangan rahmah dan berubah menjadi sumber kesombongan spiritual.

Menutup Sya‘ban, Menyambut Ramadan

Dalam bingkai Hamza Yusuf, Sya‘ban termasuk Nisfu Sya‘ban bukan tentang ritual tambahan semata, tetapi tentang mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebih sadar.

Sadar akan waktu. Sadar akan nikmat. Sadar bahwa Ramadan yang baik tidak dimulai pada hari pertama puasa, tetapi jauh sebelumnya di saat kita masih punya ruang untuk menata niat, pikiran, dan hati.

Jika Sya‘ban dijalani dengan syukur dan rahmah, maka Ramadan tidak datang sebagai beban, melainkan sebagai puncak.

Dan barangkali, seperti doa Hamza Yusuf, itulah cara terbaik untuk berharap: semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita. (*)

Sumber: https://www.retoria.id/gaya-hidup/2572228608/hamza-yusuf-nisfu-syaban-dan-tradisi-sunni-merawat-waktu-rahmah-dan-kedewasaan-dalam-perbedaan

Rekomendasi