Retoria.id – Kita semua membutuhkan uang untuk hidup di masyarakat. Namun, setelah memiliki penghasilan yang cukup untuk hidup layak, kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih dengan menumpuk harta sebanyak-banyaknya.
Filsuf Jerman Arthur Schopenhauer dalam bukunya The Wisdom of Life (1851) memperingatkan: “Lebih bijaksana menjadikan tujuan hidup kita menjaga kesehatan dan mengembangkan kemampuan diri daripada sekadar mengumpulkan kekayaan.”
Namun dengan nada kecewa, ia menambahkan: “Manusia seribu kali lebih berhasrat menjadi kaya daripada berbudaya, padahal jelas bahwa jati diri seseorang jauh lebih menentukan kebahagiaannya dibandingkan harta yang dimilikinya.”
Schopenhauer bukan satu-satunya filsuf yang merenungkan apakah menimbun kekayaan benar-benar membawa pada hidup yang bahagia. Epikuros, filsuf Yunani kuno, pernah mengingatkan bahwa “tidak ada yang cukup bagi mereka yang tak mengenal arti kecukupan”. Sementara Seneca, filsuf Stoa dari Romawi, menegaskan bahwa waktu adalah harta paling berharga yang kita miliki bukan uang.
Baca Juga: Pengaruh dan Dampak Takhayul terhadap Pengambilan Keputusan dan Pilihan Kita
Jika Schopenhauer menekankan pentingnya pengembangan intelektual, Epikuros berbicara tentang ketenangan batin, dan Seneca menyoroti nilai waktu, maka Martha Nussbaum, filsuf Amerika kontemporer berusia 78 tahun, berusaha merangkum semuanya melalui pendekatan yang ia sebut Capability Approach atau “Pendekatan Kemampuan”.
Pendekatan Kemampuan menurut Martha Nussbaum
Dalam bukunya Women and Human Development: The Capabilities Approach (1999), Nussbaum memperkenalkan sebuah kerangka berpikir baru tentang keadilan sosial dan kemanusiaan.
Biasanya, kesejahteraan manusia diukur dengan indikator ekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB) atau survei tingkat kebahagiaan. Namun, menurut Nussbaum, jika tujuan kita adalah menciptakan masyarakat yang benar-benar “manusiawi” dan “berkembang”, maka ukuran ekonomi saja tidak cukup.
Terinspirasi oleh Aristoteles, ia mengajak kita bertanya:
Apakah orang memiliki kesempatan nyata untuk hidup sesuai potensi kemanusiaannya? Apakah mereka bebas memilih dan bertindak secara bermartabat?
Dalam tulisannya Capabilities and Social Justice (2002), Nussbaum menjelaskan: “Pertanyaan utama dari pendekatan kemampuan bukanlah seberapa puas seseorang atau berapa banyak sumber daya yang dimilikinya, tetapi apa yang benar-benar ia mampu lakukan dan menjadi.”
Sepuluh Kemampuan Dasar menurut Nussbaum
Nussbaum mengidentifikasi sepuluh kemampuan esensial yang dianggapnya mutlak diperlukan agar seseorang dapat hidup secara utuh dan bermartabat:
Kemampuan-kemampuan ini sekilas mirip dengan hak asasi manusia, namun menurut Nussbaum, ia melangkah lebih jauh. Fokusnya bukan sekadar “memiliki hak”, melainkan “mampu bertindak” atas dasar hak tersebut.
Pendekatan Nussbaum menawarkan cara baru memahami etika dan kebijakan publik. Jika suatu sistem sosial atau kebijakan menghambat pengembangan kemampuan dasar manusia, maka sistem tersebut tidak bisa disebut “baik”.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah negara tidak semata diukur dari angka pertumbuhan ekonomi atau tingkat kepuasan warga, tetapi dari sejauh mana warganya benar-benar memiliki peluang untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya.
Kerangka ini bahkan telah menginspirasi Indeks Pembangunan Manusia (HDI) PBB, yang mencoba menggabungkan ukuran ekonomi, pendidikan, dan kesehatan dalam menilai kesejahteraan global.
Lebih Kaya dalam Makna yang Lebih Dalam
Uang memang penting untuk bertahan hidup, tetapi tidak cukup untuk membuat kita “berkembang”. Kita perlu melihat kembali ukuran keberhasilan hidup.
Seperti kata Schopenhauer: “Banyak orang bekerja tanpa henti, seperti semut, demi menambah tumpukan emasnya. Dan jika beruntung, mereka meninggalkan tumpukan itu kepada ahli warisnya—untuk dihabiskan, atau sekadar ditumpuk lebih tinggi. Hidup semacam itu, seberapa pun tampak serius, sebenarnya amatlah bodoh.”
Daripada mengukur nilai diri hanya dengan uang, kita dapat menilai “kekayaan” dari kemampuan lain: dalam hubungan manusiawi, dalam kehadiran penuh makna, dalam kreativitas, dan dalam harmoni dengan dunia.
Pertanyaannya bukan lagi: berapa banyak yang kita miliki, melainkan: Dalam bidang mana dari kemampuan manusiawi ini aku bisa tumbuh dan bagaimana pertumbuhan itu bisa membuat hidupku benar-benar berarti? (*)