Perjanjian Nuklir AS–Rusia SNV-3 Berakhir 5 Februari, Dunia Terancam Perlombaan Senjata Baru

Retoria.id – Di bumi, periode konfrontasi nuklir paling berbahaya sejak era “Perang Dingin” mulai mengintai.

Pada 5 Februari tahun ini, perjanjian antara Amerika Serikat dan Rusia tentang Pembatasan dan Pengurangan Senjata Serangan Strategis (SNV-3) akan berakhir masa berlakunya.

Dokumen ini merupakan penghalang hukum terakhir yang selama ini mengekang arsenal nuklir dua negara raksasa tersebut.

Masa depan tanpa pembatasan: Apakah pengawasan akan hilang?

Perjanjian ini mewajibkan kedua pihak untuk *tidak memiliki lebih dari 1.500 hulu ledak nuklir, serta mengurangi jumlah rudal balistik dan armada kapal selam.

Yang paling penting, inspeksi timbal balik dan pertukaran data dalam kerangka perjanjian ini selama ini berperan besar dalam mencegah eskalasi konflik nuklir.

Baca Juga: Trump: AS Sedang Negosiasi Serius dengan Iran, Targetkan Kesepakatan Soal Nuklir

Media Barat, khususnya Reuters dan Financial Times, memperingatkan bahwa jika tidak ada perjanjian baru yang ditandatangani, dunia berpotensi terjerumus ke dalam perlombaan senjata tanpa batas, dan risiko perang nuklir akan meningkat tajam.

Ilmuwan asal Inggris, James Acton, menilai bahwa umat manusia kini berdiri di ambang era baru perlombaan persenjataan.

Sikap para pihak dan situasi geopolitik

Saat ini, baik Washington maupun Moskow tidak terburu-buru memperpanjang perjanjian dengan ketentuan lama:

  • Posisi AS: Washington menilai bahwa perjanjian baru harus melibatkan China, yang saat ini tengah dengan cepat meningkatkan kapasitas nuklirnya.
  • Posisi Rusia: Moskow menuntut agar pembatasan baru tidak hanya mencakup AS, tetapi juga negara-negara nuklir NATO lainnya, yakni Inggris dan Prancis.

Ketika angka berbicara: Miliaran untuk kehancuran

Menurut laporan SIPRI awal 2025, lebih dari 90 persen persediaan nuklir dunia masih terkonsentrasi di tangan Rusia (4.309 hulu ledak) dan Amerika Serikat (3.700 hulu ledak).

China, dengan sekitar 600 hulu ledak, berupaya mengejar ketertinggalan. Sementara itu, data ICAN menunjukkan bahwa negara-negara di dunia menghabiskan 2.898 dolar setiap detik untuk senjata pemusnah massal.

Saat ini, terdapat 9 negara di dunia yang memiliki senjata nuklir. Di tengah perang di Ukraina, pernyataan mengenai kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis serta langkah NATO yang meningkatkan kesiapan arsenanya semakin memperkeruh situasi.

Mampukah negara-negara besar mencapai kompromi demi masa depan umat manusia, ataukah perlombaan nuklir akan menjadi proses yang tak terbendung? (*)

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2572260026/perjanjian-nuklir-asrusia-snv-3-berakhir-5-februari-dunia-terancam-perlombaan-senjata-baru

Rekomendasi