Berdiri Lebih dari 1.000 Tahun, Begini Teknologi Konstruksi Candi Borobudur Tanpa Semen Perekat

Borobudur adalah salah satu monumen Buddha paling luar biasa di dunia. Sudah sering kita melihat gambar candi ini di buku IPS atau RPUL saat dulu masih duduk di bangku SD. Akan tetapi, tahukah kamu bahwa di balik kokohnya situs warisan dunia ini selama ribuan tahun, ada teknologi konstruksi Candi Borobudur tanpa semen perekat?

Lalu, bagaimana sebenarnya metode yang dipakai sampai-sampai Borobudur bisa tetap kokoh sampai sekarang? Simak penjelasan lengkapnya di sini!

Sejarah Konstruksi Candi Borobudur

Hingga saat ini, para ahli belum menemukan catatan yang benar-benar menjelaskan kapan pembangunan Borobudur dimulai maupun tujuan awal pendiriannya. Karena itu, proses penanggalan candi dilakukan melalui kajian relief serta berbagai prasasti yang berasal dari periode yang sama.

Mayoritas sejarawan memperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi, ketika Wangsa Syailendra sedang berada pada masa kejayaannya di Kerajaan Mataram Kuno. Proyek pembangunan ini diperkirakan berlangsung selama puluhan tahun dan baru rampung sekitar tahun 825 M pada masa pemerintahan Samaratungga.

Pembangunan Candi Borobudur serta candi-candi Buddha lainnya kala itu bisa direalisasikan dimungkinkan berkat izin Rakai Panangkaran dari Dinasti Sanjaya. Hingga kini, Borobudur menjadi salah satu bukti nyata kemajuan arsitektur kuno Wangsa Syailendra yang masih dapat disaksikan secara langsung.

Bagaimana Teknologi Konstruksi Candi Borobudur Tanpa Semen Perekat?

Candi Borobudur memiliki lebih dari 2.600 panel relief yang diukir dengan rumit , menjadikannya salah satu monumen naratif terkaya di dunia. Lantas dengan jumlah panel sebanyak itu dan dimensi sebesar itu, bagaimana bisa candi ini berdiri kokoh selama lebih dari 1.000 tahun meski tidak menggunakan perekat apapun?

1. Sistem Penguncian Batu Andesit (Interlocking)

Salah satu rahasia dari teknologi konstruksi Candi Borobudur tanpa semen perekat terletak pada cara penyusunan batunya. Diperkirakan sekitar 55.000 meter kubik batu andesit digunakan untuk membangun keseluruhan struktur candi.

Alih-alih menggunakan mortar atau semen, para perajin kuno membuat setiap batu dengan ukuran dan bentuk tertentu yang dibuat presisi agar dapat saling terhubung. Beberapa batu memiliki tonjolan, sementara yang lain dilengkapi lekukan atau sambungan khusus menyerupai ekor burung.

Cara kerjanya mirip kepingan puzzle yang dirancang agar saling mengikat satu sama lain. Sistem penguncian ini tidak hanya berfungsi memperkuat struktur, tetapi juga membantu Borobudur beradaptasi terhadap kondisi alam.

Mengingat lokasinya yang diapit oleh Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Sumbing yang rawan aktivitas gempa, sistem penguncian batu memungkinkan terjadinya pergerakan kecil pada struktur tanpa menyebabkan keruntuhan. Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa candi mampu bertahan menghadapi berbagai guncangan selama berabad-abad.

Teknik serupa juga diterapkan pada berbagai elemen bangunan, termasuk stupa, gerbang, dan ceruk. Setelah struktur utama selesai dirakit, barulah relief dipahat langsung pada permukaan batu. Inilah salah satu alasan mengapa teknologi konstruksi Candi Borobudur tanpa semen perekat masih dianggap sebagai pencapaian teknik yang luar biasa untuk ukuran zamannya.

2. Sistem Drainase pada Struktur

Kekuatan Borobudur tidak hanya berasal dari susunan batunya, tetapi juga dari kemampuannya mengelola air hujan. Mengingat wilayah Jawa memiliki curah hujan yang cukup tinggi, risiko genangan dan erosi tentu harus diperhitungkan sejak awal pembangunan.

Karena itu, para perancang Borobudur melengkapi struktur candi dengan sistem drainase kuno yang dinamai Jaladwara. Air hujan dialirkan melalui saluran-saluran khusus menuju cerat yang ditempatkan di berbagai sudut bangunan.

Jumlahnya mencapai sekitar seratus buah, masing-masing dihiasi ornamen berbentuk makara atau figur raksasa yang berfungsi sekaligus sebagai elemen dekoratif. Berkat rancangan ini, air tidak mudah mengendap di permukaan bangunan.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Borobudur menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara pada abad ke-9 telah memiliki kemampuan rekayasa yang sangat maju. Melalui teknik interlocking batu dan sistem drainase, teknologi konstruksi Candi Borobudur tanpa semen perekat mampu membuat bangunan raksasa ini berdiri kokoh hingga lebih dari 1.000 tahun.

Tak heran jika hingga kini Borobudur masih menjadi salah satu mahakarya konstruksi paling mengagumkan di dunia. Kalau kamu sendiri, di umur berapa kamu tahu tentang fakta ini?

Sumber: unesdoc.unesco.org, temples.org

Rekomendasi