AS dan Israel Kewalahan Menghadapi Taktik Militer Baru Iran

Retoria.id – Konflik bersenjata di Timur Tengah semakin menunjukkan arah yang tak terduga. Bertentangan dengan banyak perkiraan, Iran ternyata telah melakukan persiapan militer yang jauh lebih matang dan menerapkan pola-pola pertempuran baru.

Media zamin.uz menelaah pandangan para pakar dan politisi Barat mengenai taktik pertahanan rahasia Iran serta perkiraan waktu operasi yang disampaikan oleh Donald Trump.

Perkembangan militer terbaru di kawasan ini memperlihatkan bahwa Iran bukan hanya memiliki kemampuan rudal, tetapi juga sistem komando yang fleksibel.

Menurut para ahli, Teheran telah meninggalkan pola perang klasik dan beralih ke strategi yang bertujuan menguras sumber daya ekonomi dan militer lawan.

“Pertahanan mozaik”: rahasia sistem yang sulit ditaklukkan

Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sistem pertahanan negaranya dibangun berdasarkan prinsip “mozaik”. Sistem ini dikembangkan pada 2005 dan membagi struktur komando menjadi 31 unit yang berdiri sendiri.

Kemandirian:Setiap provinsi memiliki komando sendiri.
Ketahanan: Jika pusat komando utama diserang, 30 pusat lainnya tetap dapat melanjutkan pertempuran.
Cakupan: Struktur semacam ini meniadakan kemungkinan Iran dikalahkan hanya dengan satu serangan “pemenggalan kepala”.

Baca Juga: Iran Lumpuhkan Radar Strategis AS Senilai Rp15 Triliun di Pangkalan Al-Udeid, Qatar

Mengapa “Kubah Besi” dan pertahanan udara AS melemah?

Blogger militer Yuriy Podolyaka menyatakan bahwa Iran menarik pelajaran dari pengalaman perang tahun 2025 dan mengubah taktiknya.

Jika sebelumnya Iran mengerahkan kawanan drone dalam jumlah besar, kini mereka menggunakan kelompok-kelompok kecil yang menyerang lebih sering.

“Untuk menangkis serangan kelompok kecil drone, Amerika Serikat dan Israel harus menghabiskan rudal-rudal mahal. Secara ekonomi ini sangat membebani dan dengan cepat menguras persediaan amunisi mereka,” ujar sang pakar.

Rencana “4–5 minggu” Trump

Dalam wawancara dengan The New York Times, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi di Iran tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, jika diperlukan, proses tersebut bisa diselesaikan hanya dalam waktu 4–5 minggu.

Persediaan: Trump menegaskan bahwa Amerika memiliki cadangan amunisi yang sangat besar di seluruh dunia.

Penyerahan diri: Ia mengklaim ribuan personel militer Iran telah menghubungi pihak AS dan menyatakan kesediaan menyerah dengan imbalan kekebalan.

“Mata-mata” di bunker: Beberapa laporan menyebutkan adanya “sumber internal” yang membocorkan informasi tentang lokasi-lokasi perlindungan paling rahasia Iran.

Pangkalan Amerika jadi sasaran

Sejauh ini, serangan presisi Iran dilaporkan telah menghantam objek-objek Amerika di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Markas Armada Kelima AS di Manama serta fasilitas di Pelabuhan Dubai dikabarkan mengalami kerusakan serius menandakan betapa gentingnya situasi saat ini.

Menurut Anda, apakah konflik ini benar-benar bisa dihentikan dalam lima minggu seperti yang dikatakan Trump, atau justru akan berubah menjadi “jebakan strategis” jangka panjang? (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2572409496/as-dan-israel-kewalahan-menghadapi-taktik-militer-baru-iran

Rekomendasi