Retoria.id – Suasana haru menyelimuti rumah duka di Dusun Jaten, Sendangadi, Mlati, Sleman, pada Minggu siang (31 Agustus 2025), ketika ribuan warga, terutama generasi muda, hadir dalam prosesi pemakaman Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta angkatan 2023. Rheza dilaporkan meninggal dunia dalam insiden saat mengikuti unjuk rasa di kawasan depan Polda DIY beberapa hari sebelumnya .
Kehadiran Ribuan Pelayat
Jenazah tiba sekitar pukul 14.52 WIB menggunakan mobil jenazah. Tangisan dan isak duka dari keluarga, teman, serta civitas akademika menemani tiap langkah prosesi . Tak hanya dari kalangan akademis, ratusan anak muda—teman seangkatannya, aktivis mahasiswa, dan rekan perjuangan—menyertai perjalanan terakhir Rheza menuju liang lahat di lokasi tak jauh dari rumah duka, sekitar 300 meter melalui jalan yang penuh doa dan harapan .
Baca Juga: Prabowo Minta DPR dan Pemerintah Buka Ruang Dialog dengan Tokoh Masyarakat hingga Mahasiswa
Korban dengan Luka Serius
Informasi dari keluarga dan pihak universitas menyebut bahwa Rheza meninggal dalam kondisi luka serius. Ayahnya, Yoyon Surono, menyampaikan bahwa putranya dibawa ke RSUP Dr. Sardjito oleh unit kesehatan Polda, dalam kondisi penuh bekas luka, di antaranya:
Keluarga menolak dilakukannya otopsi dan menyatakan keikhlasan atas kepergian Rheza .
Reaksi Kampus dan Civitas Akademika
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Ahmad Fauzi, membenarkan bahwa Rheza adalah mahasiswa aktif Amikom dan turut serta dalam demonstrasi di depan Mapolda DIY. Namun, pihak kampus menyatakan masih melakukan penelusuran terkait penyebab pasti tragedi ini .
Suara Aspirasi dalam Hening
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Amikom dan berbagai kelompok mahasiswa menyampaikan belasungkawa mendalam. Forum BEM DIY menegaskan bahwa kepergian Rheza bukan semata kehilangan personal, tetapi juga tanggung jawab moral bersama untuk menjaga kehormatan ruang perjuangan mahasiswa .
Pemakaman Rheza Sendy Pratama menjadi refleksi kepedihan kolektif masyarakat akademik dan generasi muda Yogyakarta. Tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhum sekaligus kehadiran masif di makam mencerminkan situasi kritis dalam demokrasi kita dan panggilan bersama untuk menuntut klarifikasi, keadilan, dan perlindungan bagi hak menyuarakan pendapat secara damai.