Retoria.id – Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, dengan tegas menolak kemungkinan pemindahan paksa warga Palestina. Ia menyebut gagasan relokasi sebagai “garis merah” yang tak bisa dilewati.
Abdelatty memperingatkan bahwa pengusiran rakyat Palestina hanya akan membawa pada ancaman hilangnya mereka sebagai bangsa.
“Tindakan seperti itu tidak memiliki dasar hukum maupun moral,” ujarnya. Ia juga menuding Israel melakukan genosida dengan membunuh massal warga sipil di Gaza dan menerapkan kebijakan kelaparan secara sistematis.
Ssbelumnya, mengutip laporan CNN mengungkap Israel tengah membuka pembicaraan terkait kemungkinan memindahkan warga Gaza ke Sudan Selatan, bahkan ke sejumlah negara Afrika lainnya.
Baca Juga: Eropa Soroti Konsentrasi Pasukan Rusia di Pokrovsk, Zelensky Ingatkan Ancaman Serangan Baru
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam wawancara dengan saluran i24 menyebut opsi relokasi sebagai bentuk “migrasi sukarela.”
Ia berdalih, langkah itu memungkinkan pemisahan antara warga sipil dan musuh, sebelum operasi militer besar-besaran dilancarkan di Gaza.
Netanyahu juga menyebut gagasan relokasi sempat diutarakan oleh mantan Presiden AS Donald Trump. Namun, Kementerian Luar Negeri Sudan Selatan membantah adanya pembicaraan resmi dengan Israel, menyebut laporan tersebut “tidak berdasar.”
Rencana ini memicu gelombang kritik dari pihak Palestina, organisasi HAM, hingga komunitas internasional. Mereka menegaskan, istilah “sukarela” dalam konteks perang dan blokade hanyalah ilusi, sebab warga tidak punya pilihan nyata selain meninggalkan tanah mereka.
Seorang pejabat Palestina menyebut langkah tersebut sebagai upaya “penghapusan bangsa secara bertahap.” Menurut data resmi Gaza, sejak 2023 lebih dari 64 ribu warga Palestina tewas akibat serangan udara dan blokade, sementara jutaan lainnya menghadapi krisis pangan dan kesehatan yang parah.
Israel menolak tuduhan genosida dan menyebut semua operasi militer dilakukan untuk membela diri terhadap Hamas.
Namun, fakta di lapangan menampilkan wajah berbeda: Gaza berubah menjadi ruang maut yang kian hari kian menutup jalan hidup rakyatnya. (*)