Retoria.id – Di tengah krisis harga singkong yang melanda petani Desa Petir, Gunungkidul, sebuah inisiatif sederhana dari Masjid Nurul Ashri, Sleman, Yogyakarta, berhasil memberi harapan baru. Melalui program “titip beli” singkong, masjid ini menghubungkan petani dengan jemaah, sehingga harga jual singkong naik empat kali lipat dari harga tengkulak
Dalam hitungan hari, lebih dari 10 ton singkong berhasil tersalurkan. Sebelumnya, petani hanya menerima sekitar Rp500 per kilogram akibat pabrik tepung setempat menghentikan operasionalnya. Kini, mereka mendapat Rp2.000 per kilogram dari program ini. Jemaah masjid membeli singkong lewat skema jastip seharga Rp3.000 per kilogram, dengan selisih harga digunakan untuk operasional distribusi. Menariknya, sebagian besar jemaah memilih menyedekahkan singkong yang dibeli untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
Anjloknya harga singkong bermula dari berhentinya produksi pabrik tepung, yang selama ini menjadi pembeli utama. Tengkulak memanfaatkan situasi ini dengan menawar harga serendah mungkin. Upaya petani mengolah singkong menjadi gaplek pun terhambat oleh cuaca hujan yang memperlambat proses pengeringan.
Program titip beli dari Masjid Nurul Ashri hadir sebagai solusi cepat. Dengan memotong jalur tengkulak, petani bisa menjual langsung dengan harga yang lebih layak, sementara pembeli tetap mendapat harga terjangkau.
Baca Juga: Petani Jagung Grobogan Tidak Perlu Khawatir: Enam Perusahaan Siap Menyerap Panen
Inisiatif ini bukan yang pertama dilakukan. Sebelumnya, Masjid Nurul Ashri juga pernah menjalankan program serupa ketika harga sayur di Magelang jatuh. Program tersebut masih berjalan hingga kini dan telah membantu banyak petani mempertahankan penghasilannya.
Melihat dampak positifnya, pihak masjid berencana memperluas program ke desa-desa lain yang mengalami masalah serupa. Dukungan dari jemaah dan masyarakat luas diharapkan bisa menjaga keberlanjutan program ini sekaligus menjadi contoh nyata bahwa solidaritas dapat menyelamatkan rantai pangan lokal.
Di tengah gempuran pasar yang sering kali tidak adil bagi petani, langkah kecil ini menjadi bukti bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan terbesar bangsa.