Teror Kepala Babi di Bogor: Ketika Kritik Jadi Sasaran Terorisme Simbolik



Retoria.id – Raksa Kalam Nasution, aktivis dan kreator konten media sosial dengan akun @walikonten, dikejutkan saat menerima paket misterius yang diletakkan di luar kontrakannya di kawasan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jumat sore (5/9/2025). Paket itu hanya mencantumkan namanya sebagai penerima, serta seorang “Robi Darwis” sebagai pengirim—yang kemudian menyangkal pernah mengirim apapun.

Isi Paket Mengundang Ketakutan

Raksa segera melibatkan satpam kompleks dan menghubungi polisi serta sejumlah pejabat lokal sebagai saksi keadaan. Saat paket dibuka sekitar pukul 17.45 WIB, terkuak isinya: kepala babi utuh—penampakan yang mengejutkan dan mengangetkan semua pihak yang hadir.

Motif Masih Misterius, Laporan Menskala

Hingga saat ini, motif pengiriman masih belum terang. Raksa dikenal aktif menyuarakan edukasi sosial, termasuk soal aksi demonstrasi akhir Agustus dan “17+8 Tuntutan Rakyat”. Keaktifannya memicu dugaan teror sebagai bentuk pembungkaman.

Baca Juga: Urgensi Perda Alih Fungsi Lahan: Bali Siap Bongkar Modus “Nominee” oleh WNA

Polisi telah memulai penyelidikan—meski Raksa belum mengajukan laporan formal, penyidik tengah menghimpun keterangan dan menjejak asal kiriman.

Teror Kepala Babi: Simbol Kekerasan yang Menyesakkan

Pengiriman kepala babi bukan kali pertama terjadi. Jurnalis Tempo juga pernah menjadi korban pada Maret 2025. Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) malah menyatakan aksi semacam ini adalah bentuk serangan terhadap kebebasan pers. Dalam budaya Indonesia, terutama bagi Muslim dan Yahudi, babi melambangkan najis—teror yang menyasar ke ranah identitas sekaligus penghinaan mendalam.

Respons Sosial & Keberanian Tetap Bersuara

Menariknya, Raksa tidak surut sedikit pun. Dalam unggahan Instagram dan story-nya, ia menegaskan komitmen untuk tetap bersuara, terus menyampaikan edukasi dan fakta—sebuah penyiaran keberanian di tengah upaya intimidasi.

Sumber: https://www.retoria.id/daerah/2571553004/teror-kepala-babi-di-bogor-ketika-kritik-jadi-sasaran-terorisme-simbolik

Rekomendasi