Telegram Blokir 20,9 Juta Kanal dan Grup Sepanjang 2025

Retoria.id — Telegram mengambil langkah besar dalam membersihkan platformnya dari kanal dan grup yang menyebarkan konten ilegal, spam, hingga penipuan.

Sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2025, lebih dari 20,9 juta kanal dan grup telah diblokir secara permanen. Angka ini dirilis langsung oleh pihak Telegram melalui situs resminya.

Meski alasan pemblokiran tidak dirinci satu per satu, Telegram menyebut tindakan ini mayoritas dilakukan terhadap pelanggaran berupa penyebaran spam, penipuan digital, konten asusila, dan perilaku berbahaya lainnya.

Langkah ini merupakan bagian dari pengawasan aktif yang dijalankan Telegram untuk menjaga ruang digital tetap bersih dan aman bagi penggunanya.

Baca Juga: Aplikasi Mobile ChatGPT Hasilkan Rp32 Triliun, Jadi Sumber Pendapatan Utama OpenAI

Pendiri Telegram, Pavel Durov, menegaskan bahwa pihaknya kini lebih tegas terhadap kanal yang terlibat dalam pemerasan, penyebaran hoaks berbayar, dan praktik manipulatif lainnya.

Ia menyebut, ketika aktivitas mencurigakan terdeteksi, kanal akan langsung ditutup dalam waktu singkat tanpa toleransi.

Ketegasan itu tercermin dalam catatan harian Telegram. Pada 27 Juli 2025 saja, lebih dari 402 ribu kanal dan grup diblokir dalam satu hari—angka yang mencerminkan skala pengawasan Telegram di tingkat global.

Para pengamat menilai, pembersihan ini tak hanya menekan peredaran konten berbahaya, tapi juga memberikan rasa aman bagi pengguna biasa.

Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa tidak menutup kemungkinan kanal yang tidak bersalah ikut terdampak. Dalam kasus seperti itu, Telegram menyatakan akan melakukan evaluasi ulang.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal jelas bahwa Telegram tidak lagi memberi ruang bagi aktor-aktor yang menyalahgunakan platform.

Bagi jutaan kanal yang masih aktif, kebijakan ini menjadi peringatan keras: patuhi aturan, atau keluar dari permainan. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2571499386/telegram-blokir-209-juta-kanal-dan-grup-sepanjang-2025

Rekomendasi