Retoria.id — Meskipun pemerintah kota telah menggelar sejumlah operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM), harga beras di Kendari masih tinggi dan belum menunjukkan tren penurunan signifikan. Masyarakat pun mulai mengubah pola konsumsi sambil berharap ada koreksi harga yang nyata.
Pedagang di Pasar Mandonga menyebut bahwa beras kelas medium kini dijual sekitar Rp14.000 per kg—setara Rp680.000 per karung—sementara sebelumnya ada di kisaran Rp12.000 per kg atau Rp650.000 per karung. Harga beras premium bahkan menyentuh Rp15.000 per kg.
Baca Juga: Refleksi Kemerdekaan Romo Magnis: Khawatirkan 50 Persen Rakyat Tak Lagi Merasa Memiliki Indonesia
Lonjakan ini disebabkan oleh stok terbatas akibat gagal panen. Beberapa daerah juga memilih mengirim produksinya ke luar wilayah, mengakibatkan pasokan lokal menyusut.
Pemkot Kendari, melalui Dinas Ketahanan Pangan, telah meluncurkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Balai Kota sejak 21 Juli. Acara tersebut menghadirkan 11 distributor lokal dan Bulog Sultra sebagai penyedia beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Baca Juga: Setahun Diresmikan Jokowi, Pasar Godean Rp 89 Miliar Masih Kosong, Sleman Janji Buka Oktober 2025
Dalam program tersebut, masyarakat bisa mendapatkan beras SPHP seharga Rp58 ribu per 5 kg, jauh lebih murah ketimbang harga pasaran yang berkisar antara Rp70–80 ribu per 5 kg. Namun, meskipun diminati, pasar murah tersebut belum mampu menekan harga secara umum.
Harga tinggi membuat sebagian warga Kendari mengurangi konsumsi beras premium. Banyak yang mulai memilih produk berkualitas menengah agar tetap bisa memenuhi kebutuhan tanpa membebani anggaran keluarga.
Baca Juga: Masyarakat Tak Perlu Khawatir, Pemerintah Percepat Operasi Pasar dan Tindak Tegas Beras Oplosan
Warga berharap pemerintah dapat memasifkan operasi pasar lebih merata dan memperkuat distribusi bantuan beras murah ke tingkat kelurahan. Skema seperti subsidi dan bantuan langsung tunai pangan juga dinilai perlu diperkuat untuk meringankan beban rumah tangga.
Kendati pemerintah telah mengintervensi lewat operasi pasar dan GPM, beberapa faktor struktural memblokir penurunan harga:
1. Stok lokal menipis akibat gagal panen dan distribusi ke luar daerah. Indonesia secara nasional mencatat lonjakan harga meski produksi naik signifikan karena perilaku spekulatif dan inefisiensi distribusi.
2. Peran perantara (middle man) yang kuat memicu distorsi harga. Distribusi yang panjang tanpa pengawasan real-time, dari stok hingga distribusi, melemahkan kontrol pemerintah.
3. Program pemerintah belum efektif merata di semua titik pasar, meski antisipasi sudah diterapkan, namun masih diperlukan optimalisasi cakupan dan komunikasi antar pemangku kepentingan.
Baca Juga: Skandal Beras Oplosan, Pedagang Pasar Tradisional Raup Untung
Meskipun operasi pasar dan bantuan beras murah memberikan keringanan singkat, harga beras di Kendari tetap tinggi karena faktor pasokan dan distribusi yang kompleks. Agar harga bisa benar-benar turun, intervensi pemerintah perlu diperkuat dengan data stok real-time, sistem distribusi yang efisien, serta pendekatan jangka panjang dalam stabilisasi harga.