China Menawarkan Mediasi Konflik Perbatasan Kamboja–Thailand, ASEAN Dianggap Tersisih

Retoria.id— China kembali mengambil inisiatif diplomatik dengan menawarkan mediasi untuk meredam ketegangan perbatasan antara Kamboja dan Thailand, sebuah langkah yang memunculkan pertanyaan serius terhadap peran ASEAN dalam menangani konflik intra-regional.

Kompleksitas sengketa antara Kamboja dan Thailand berakar dari peta-peta kolonial era Perancis (1907), yang menimbulkan klaim berbenturan, khususnya di sekitar Candi Preah Vihear dan situs kuno lain seperti Ta Moan Thom dan Ta Krabey.

Baca Juga: Perundingan Global Soal Plastik Gagal Capai Konsensus, Masa Depan Perjanjian Masih Abu-abu

Pada Juli 2025, konflik pecah menjadi kekerasan militer dengan korban jiwa, termasuk warga sipil, dan menimbulkan pengungsian massal. Perjanjian gencatan senjata berhasil dicapai di Putrajaya, Malaysia, melalui mediasi ASEAN dan tekanan diplomatik AS.

Meski ASEAN memiliki mandat menjaga stabilitas regional, penyelesaian sengketa ini justru lebih tampak difasilitasi oleh inisiatif luar blok, termasuk oleh China dan Amerika Serikat. Banyak pihak menilai ini menurunkan kredibilitas ASEAN sebagai mediator utama di kawasan Asia Tenggara.

China saat ini menyatakan dukungan penuh untuk rekonsiliasi, menawarkan bantuan seperti operasi penjinakan ranjau dan dialog diplomatik terbuka, seraya menegaskan sikap “adil dan objektif” dalam mediasi.

Baca Juga: Saat Indonesia Pernah Lebih Kaya dari China: Sebuah Kilas Balik Ekonomi

Namun, beberapa analis menyoroti bahwa mediasi unilateral oleh China—terutama jika dianggap berpihak—bisa memicu kecurigaan terhadap motornya di kawasan, sekaligus menekan posisi ASEAN dalam skema geopolitik regional.

ASEAN, dengan konsep “ASEAN Way” yang menekankan dialog internasional non-interferensi, dinilai menghadapi ujian. Keterlambatan respons resmi dan tidak adanya leverage kuat dalam meredam konflik membuat kredibilitas blok ini dipertanyakan.

Meski Malaysia sebagai ketua bergilir telah mengambil peran memfasilitasi gencatan senjata di Putrajaya, keterlibatan China dan AS dalam proses diplomatik menyoroti kelemahan struktural ASEAN dalam menyelesaikan masalah dalam naungannya sendiri.

Baca Juga: Perusahaan China Pindah Investasi ke Indonesia untuk Hindari Tarif AS Tinggi

Langkah China yang menunjukkan diri sebagai mediator bisa membuka peluang bagi stabilitas, tetapi juga berisiko menyingkirkan ASEAN dari pendamaian regional. ASEAN saat ini menghadapi momen penting—memperkuat diplomasi, memperjelas kerangka intervensi, dan mempertegas perannya agar tetap relevan di tengah persaingan kekuatan global.

Tanpa kehadiran aktif dan kredibel dari ASEAN, keamanan kawasan rawan menjadi panggung dominasi kekuatan besar yang bisa mengaburkan solusi damai jangka panjang.

Sumber: https://www.retoria.id/internasional/2571499661/china-menawarkan-mediasi-konflik-perbatasan-kambojathailand-asean-dianggap-tersisih

Rekomendasi