Retoria.id – Iran menolak proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang, demikian dilaporkan oleh media penyiaran negara Iran, Press TV.
Seorang perwakilan pemerintah di Teheran menyatakan bahwa konflik tidak akan berakhir sesuai keinginan Presiden AS Donald Trump, melainkan hanya ketika Iran sendiri memutuskannya.
Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), rencana Amerika Serikat yang terdiri dari 15 poin telah disampaikan ke Teheran melalui Pakistan, berdasarkan keterangan dua pejabat pemerintah Pakistan. Hal ini juga diberitakan oleh DW.
Menurut laporan The New York Times dan Channel 12 Israel, proposal tersebut mencakup pemulihan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, penerapan pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran, serta pelonggaran sanksi sebagai imbalannya.
Baca Juga: Trump Targetkan Konflik dengan Iran Berakhir dalam 4–6 Pekan
Selain itu, juga direncanakan gencatan senjata selama satu bulan untuk membuka jalan bagi negosiasi di Washington.
Rencana tersebut tidak mencakup pergantian rezim di Iran. Namun, Teheran membantah adanya negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, Inggris dan Prancis tengah mendorong pembicaraan untuk membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
AFP, mengutip sumber dari Kementerian Pertahanan Inggris, menyebutkan bahwa perwakilan militer dari sekitar 30 negara dapat bertemu pada akhir pekan untuk membahas pembentukan koalisi guna melindungi jalur tersebut.
Baca Juga: Negara Mana Saja yang Diizinkan Melintasi Selat Hormuz oleh Iran?
Beberapa negara seperti Jerman, Italia, Jepang, dan Belanda telah menyatakan dukungan terhadap langkah perlindungan kapal kargo.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, juga menunjuk diplomat Prancis Jean Arnault sebagai utusan khusus untuk Iran.
Guterres memperingatkan bahwa perang telah keluar dari kendali dan menyerukan kepada Amerika Serikat serta Israel untuk menghentikan aksi militer, sekaligus mendesak Iran agar menghentikan serangan terhadap negara-negara di Teluk Persia.
Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa syarat potensial Iran untuk membuka negosiasi mencakup pencabutan sanksi, mempertahankan program nuklirnya, serta jaminan bahwa tidak akan terjadi perang baru. (*)