Retoria.id – Ketegangan kawasan Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan udara Israel menewaskan sejumlah pejabat Hamas di Doha, Qatar, awal September 2025. Serangan tersebut berlangsung ketika delegasi Hamas tengah membicarakan proposal gencatan senjata yang melibatkan Amerika Serikat.
Tak berhenti di situ, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan ultimatum keras: Qatar harus mengusir atau mengadili para pejabat Hamas, jika tidak, Israel siap melancarkan operasi militer lanjutan.
Ketegangan Tiga Arah: Israel–Qatar–AS
Langkah Israel ini memicu kegeraman Qatar, yang menilai serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional. Presiden AS Donald Trump—yang selama ini dikenal dekat dengan Israel—bahkan menyebut tindakan Netanyahu sebagai langkah yang “tidak bijak” karena berpotensi memicu eskalasi konflik di kawasan Teluk.
Washington menilai serangan itu juga dapat mengacaukan proses mediasi yang selama ini dijalankan Qatar, termasuk upaya membebaskan sandera dan mencapai gencatan senjata permanen di Gaza.
Baca Juga: Akankah Qatar Menyesal Hadiahi Donald Trump Istana di Langit Setelah Serangan Israel?
Implikasi Diplomatik
Baca Juga: Serangan Israel Meluas, Enam Negara Jadi Target dalam 72 Jam
Dampak yang Mengintai
Ancaman serangan lanjutan ke wilayah berdaulat seperti Qatar dikhawatirkan memicu:
Ancaman Netanyahu menandai babak baru konflik yang tak hanya menyasar Hamas, tetapi juga melibatkan hubungan diplomatik lintas negara. Qatar kini menghadapi ujian berat: menjaga kedaulatan, mempertahankan peran mediasi, sekaligus mengantisipasi potensi serangan berikutnya.