Lebih dari 7 dari 10 Pasien Gagal Jantung Alami Gangguan Kecemasan

 

Retoria.id – Gangguan kecemasan ternyata menjadi persoalan serius bagi penderita penyakit kardiovaskular. Menurut temuan terbaru, orang dengan gangguan kecemasan dan penyakit jantung bawaan memiliki risiko lebih dari dua kali lipat untuk mengalami komplikasi atau meninggal dunia.

Sementara itu, sekitar 72 persen pasien gagal jantung kronis dilaporkan mengalami gejala kecemasan, dan sepertiga pasien perempuan tercatat menderita depresi.

Hubungan erat antara kesehatan mental dan penyakit kardiovaskular kini semakin menjadi sorotan komunitas medis internasional.

Dokumen konsensus terbaru dari European Society of Cardiology (ESC) menegaskan bahwa gejala psikologis seperti kecemasan dan depresi tidak hanya memperburuk kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang.

Penelitian yang dipublikasikan di European Heart Journal dan dipresentasikan dalam konferensi ESC di Madrid (29 Agustus – 1 September) ini menandai pertama kalinya aspek kesehatan mental ditekankan dalam pedoman pengelolaan penyakit kardiovaskular berbasis bukti.

“Untuk pertama kalinya dalam konferensi kardiologi, hubungan antara kesehatan mental dan penyakit jantung ditelaah secara sistematis,” ujar Christos Lionis, Profesor Emeritus Kedokteran Umum dan Perawatan Primer dari Universitas Kreta sekaligus anggota tim ahli, kepada FM Agency.

Ia menegaskan perlunya pendekatan interdisipliner dan penguatan layanan kardiopsikologi dalam praktik klinis.

Faktor psikososial yang memengaruhi risiko

Selain menyoroti risiko, dokumen konsensus juga menekankan pentingnya faktor pelindung yang berhubungan dengan kondisi psikologis positif.

Individu dengan sikap optimis, bahagia, dan memiliki tingkat kepuasan hidup tinggi terbukti lebih jarang mengalami penyakit kardiovaskular.

Sebaliknya, faktor-faktor seperti isolasi sosial, stres kerja kronis, trauma masa kecil, hingga pengalaman diskriminasi justru meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan jantung.

“Semua faktor ini berhubungan langsung dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular,” jelas Lionis.

Karena itu, para dokter — terutama ahli jantung — didorong untuk memasukkan evaluasi psikososial dalam pemeriksaan rutin. Dengan cara ini, intervensi bisa dilakukan lebih dini guna menekan dampak stres kronis serta menurunkan risiko komplikasi.

Gangguan mental pascakejadian kardiovaskular

Penelitian juga menyoroti tingginya prevalensi gangguan mental pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung atau gagal jantung kronis.

Lionis menambahkan, “Pasien dengan gangguan mental cenderung kurang patuh terhadap instruksi medis dan lebih enggan menerapkan gaya hidup sehat. Hal ini tentu memperburuk kondisi mereka.”

Sebagai Ketua Komite Kesehatan Mental Masyarakat Kedokteran Keluarga Dunia, Lionis menekankan bahwa integrasi kesehatan mental dalam perawatan jantung bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak. (*) 

Sumber: https://www.retoria.id/kesehatan/2571577814/lebih-dari-7-dari-10-pasien-gagal-jantung-alami-gangguan-kecemasan

Rekomendasi