Retoria.id – Dalam setahun terakhir, ekonomi Jerman mengalami kerugian besar akibat pencurian data digital, spionase industri, dan berbagai aksi sabotase.
Total kerugian diperkirakan mencapai 289,2 miliar euro, naik hampir 8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Laporan terbaru Bitkom, asosiasi industri digital Jerman, menyebutkan sebagian besar jejak serangan mengarah ke Rusia dan Tiongkok.
Survei yang melibatkan lebih dari seribu perusahaan besar dan menengah menunjukkan 87 persen responden menjadi korban serangan siber atau kerugian digital pada tahun ini, meningkat dari 81 persen pada 2024.
Sebanyak 46 persen perusahaan mengaku pernah menghadapi ancaman siber terkait Rusia, naik 7 persen dibanding tahun lalu.
Baca Juga: Parlemen Albania Ricuh Usai Menteri Virtual Berbasis AI Sampaikan Pidato
Angka serupa juga tercatat pada ancaman yang terkait dengan Tiongkok. Selain itu, perusahaan juga menyinggung risiko yang datang dari Eropa Timur, Amerika Serikat, hingga Jerman sendiri.
Menariknya, 28 persen perusahaan meyakini serangan ini melibatkan dinas intelijen asing. Angka tersebut meningkat tajam dibanding 20 persen pada 2024 dan hanya 7 persen pada 2023.
Tren ini menunjukkan tumbuhnya kekhawatiran terhadap keterlibatan negara asing dalam serangan digital.
Bitkom menegaskan sebagian besar kerugian bersumber dari aksi kejahatan terorganisasi, menandakan ancaman dilakukan secara sistematis.
Wakil Kepala Badan Federal untuk Perlindungan Konstitusi Jerman, Sinan Selen, juga menegaskan bahwa Jerman selama bertahun-tahun telah menjadi target utama serangan siber yang terkait dengan Rusia.
Kondisi ini menunjukkan urgensi memperkuat sistem keamanan digital Jerman. Para ahli menilai, perusahaan tidak hanya perlu memperkuat pertahanan internal, tetapi juga melindungi jaringan eksternal.
Setiap celah dalam dunia digital, sekecil apa pun, berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi raksasa. (*)