Retoria.id – Selama puluhan tahun, Israel menikmati dukungan publik yang relatif stabil di Amerika Serikat. Namun kini, tren itu mulai bergeser. Survei-survei opini terbaru menunjukkan dukungan warga AS terhadap Israel melemah, terutama setelah rangkaian serangan udara dan operasi militer yang menelan banyak korban sipil di Gaza.
Perubahan ini menimbulkan pertanyaan: apakah Amerika sedang memasuki era baru dalam cara memandang konflik Israel–Palestina?
Lensa Media Sosial: Perang yang Terlihat dari Dekat
Di masa lalu, informasi tentang konflik Timur Tengah datang melalui laporan berita resmi. Kini, media sosial menghadirkan perang ke layar ponsel, menampilkan gambar korban sipil, rumah sakit yang hancur, dan anak-anak yang kehilangan keluarga—semuanya dalam waktu nyata.
Generasi muda Amerika yang akrab dengan TikTok, Instagram, dan X (Twitter) bereaksi lebih emosional dan kritis. Mereka mempertanyakan mengapa dana pajak mereka mendukung kebijakan militer yang menimbulkan penderitaan warga sipil.
Baca Juga: Portugal Siap Akui Negara Palestina: Babak Baru Diplomasi Eropa
Pergeseran Generasi dan Politik Domestik
Faktor Ekonomi dan Prioritas Nasional
Pasca pandemi dan di tengah kenaikan biaya hidup, bantuan miliaran dolar untuk Israel sering dipertanyakan. Banyak warga berpendapat dana tersebut lebih mendesak untuk perbaikan layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur di dalam negeri.
“Ketika kita berjuang menutup biaya kuliah dan perawatan kesehatan, sulit memahami mengapa miliaran dolar kita kirim untuk mendanai konflik yang tampaknya tak berujung,” ujar seorang mahasiswa di New York dalam wawancara dengan media lokal.
Dampak terhadap Kebijakan Luar Negeri AS
Tekanan opini publik ini mulai terasa di Washington: