Retoria.id – Mantan kepala intelijen Arab Saudi, Pangeran Turki al-Faisal, menyampaikan keyakinannya bahwa mantan Presiden AS Donald Trump memiliki pengaruh cukup besar untuk menekan Israel agar menghentikan perang di Gaza.
Dalam sebuah forum diskusi regional, Pangeran Turki menegaskan bahwa kebijakan ekspansi Israel selama puluhan tahun telah merugikan rakyat Palestina.
“Israel telah mencuri tanah Palestina sejak mereka mendudukinya lebih dari 60 tahun yang lalu, dan itu adalah kebijakan yang dideklarasikan,” tegas Pangeran Turki.
Kritik Tajam terhadap Kebijakan Israel
Pangeran Turki, yang dikenal vokal mendukung hak Palestina, menilai bahwa pendudukan dan pembangunan permukiman Israel di wilayah Palestina menjadi akar konflik yang tak kunjung usai. Ia menekankan pentingnya tekanan internasional, termasuk dari Amerika Serikat, untuk memaksa Israel menghentikan kekerasan.
Baca Juga: Jepang Tetap Diam Soal Pengakuan Palestina: Menunggu Waktu atau Tekanan Diplomatik?
Peran Amerika Serikat
Menurut Turki, Trump—dengan jaringan politik dan pengaruhnya di Israel—masih memiliki kemampuan untuk mendorong negosiasi damai, meski tidak lagi menjabat.
Seruan untuk Solusi Dua Negara
Pangeran Turki kembali menegaskan bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan keluar yang adil dan berkelanjutan. Ia mendesak masyarakat internasional, termasuk negara-negara Arab, agar bersatu menekan Israel menghentikan kekerasan dan membuka kembali jalur dialog.
Konteks Regional
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran atas krisis kemanusiaan di Gaza. Ribuan korban sipil dan kerusakan infrastruktur memicu desakan global agar gencatan senjata segera dilakukan, sekaligus menambah tekanan diplomatik terhadap Israel dan sekutunya.
Komentar Pangeran Turki menambah bobot wacana internasional bahwa pengaruh politik dan diplomasi Amerika Serikat tetap menjadi faktor kunci dalam menghentikan konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.