Retoria.id – PC PMII DIY menggelar diskusi publik bertajuk “Bangsa-Bangsa Dalam Bayang Negara Militer & Masa Depan Demokrasi Indonesia”, Jumat (10/04), sebagai bagian dari upaya membaca arah demokrasi Indonesia ke depan.
Ketua PC PMII DIY, Muh. Faisal, dalam pembukaan menyampaikan bahwa demokrasi tidak selalu hadir dalam ruang terbuka, melainkan juga dapat berlangsung dalam situasi ketika partisipasi publik mengalami penurunan.
Ia menekankan pentingnya menjaga sikap kritis, khususnya di kalangan mahasiswa, di tengah dinamika ruang sipil yang terus berubah.
Dalam pemaparannya, Dr. Gugun El Guyani dari UIN Sunan Kalijaga menyoroti kondisi supremasi sipil yang, menurutnya, tengah menghadapi tantangan.
Ia menjelaskan adanya kecenderungan keterlibatan militer dalam sektor-sektor non-pertahanan, termasuk bidang pangan, yang selama ini menjadi domain otoritas sipil.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran peran yang perlu dicermati dalam kerangka demokrasi dan tata kelola negara.
Sementara itu, Achmad Zuhri mengangkat konsep Soft Militarism untuk menjelaskan bentuk militerisme kontemporer.
Ia menyebut bahwa militerisme saat ini tidak selalu tampil secara fisik, tetapi dapat hadir melalui pendekatan kebijakan dan pola pengambilan keputusan yang mengedepankan logika komando.
Ia menambahkan bahwa terdapat kecenderungan penekanan pada stabilitas dalam berbagai kebijakan, yang dalam beberapa konteks beririsan dengan aspek kebebasan sipil.
Selain itu, ia juga menyinggung adanya pengaruh latar belakang militer dalam sejumlah posisi eksekutif dan dinamika politik lokal.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pola konsolidasi kekuasaan dengan pendekatan yang lebih terpusat berpotensi memengaruhi praktik demokrasi yang idealnya bertumpu pada pertukaran gagasan dan keberagaman pandangan.
Diskusi yang diinisiasi oleh Biro Advokasi dan Jaringan PC PMII DIY ini juga menjadi ruang refleksi bagi kader.
Koordinator biro Advokasi M. Abrori Riki Wahyudi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya merumuskan kembali peran mahasiswa dalam merespons isu-isu demokrasi.
Melalui forum ini, PC PMII DIY menyatakan komitmennya untuk terus terlibat dalam penguatan ruang sipil, serta mendorong pentingnya supremasi sipil sebagai salah satu prinsip dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. (*)