Retoria.id – Ketika bencana alam melanda, perhatian publik hampir selalu tertuju pada korban manusia, kerusakan infrastruktur, serta dampak ekonomi yang ditimbulkan. Pemberitaan media pun bergerak cepat mengikuti alur tersebut. Namun, di balik hiruk pikuk penanganan darurat, ada satu kelompok makhluk hidup yang nyaris luput dari sorotan: satwa.
Padahal, bencana tidak hanya merenggut rumah dan mata pencaharian manusia, tetapi juga menghancurkan habitat, memutus rantai pangan, dan mengancam kelangsungan hidup berbagai jenis hewan baik ternak, satwa liar, maupun hewan peliharaan. Ketika banjir, gempa, kebakaran hutan, atau erupsi gunung terjadi, satwa sering kali menjadi korban senyap yang menderita tanpa mekanisme perlindungan yang jelas.
Satwa sebagai Bagian dari Ekosistem Risiko
Dalam perspektif manajemen bencana, satwa seharusnya dipandang sebagai bagian dari sistem yang terdampak. Hilangnya ternak berarti hilangnya sumber penghidupan masyarakat pascabencana. Matinya satwa liar dalam jumlah besar dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, bahkan memicu masalah lingkungan lanjutan.
Sayangnya, pendekatan penanggulangan bencana masih sangat antroposentris. Evakuasi manusia menjadi prioritas utama yang tentu saja benar namun sering kali tidak diiringi dengan perencanaan penyelamatan satwa. Akibatnya, banyak hewan ditinggalkan, terperangkap, kelaparan, atau mati perlahan di wilayah terdampak.
Baca Juga: Modernisasi Pertanian Melonjak: Kementan Resmi Bentuk 33 Balai Besar di Seluruh Provinsi
Antara Kepedulian dan Kesiapan Sistem
Perhatian terhadap satwa di masa bencana bukan sekadar soal empati. Ia mencerminkan kesiapan sistem yang beradab dan menyeluruh. Negara yang tangguh terhadap bencana adalah negara yang mampu melindungi seluruh unsur kehidupan, termasuk makhluk hidup non-manusia.
Di berbagai daerah, inisiatif penyelamatan satwa sering lahir dari relawan atau komunitas pecinta hewan. Mereka bekerja dengan sumber daya terbatas, terkadang tanpa perlindungan hukum yang memadai. Situasi ini menunjukkan adanya celah besar dalam kebijakan dan koordinasi resmi penanganan bencana yang inklusif terhadap satwa.
Peran Media dalam Menggeser Sudut Pandang
Media memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran publik. Ketika nasib satwa jarang diangkat, isu ini seolah menjadi urusan pinggiran. Padahal, liputan yang konsisten dan berimbang dapat mendorong lahirnya kebijakan yang lebih sensitif terhadap perlindungan hewan di masa krisis.
Dengan menghadirkan cerita tentang satwa yang terdampak bencana, media tidak hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga memperluas pemahaman publik bahwa bencana adalah persoalan ekologis, bukan semata tragedi sosial.
Menuju Penanganan Bencana yang Lebih Beradab
Kedepan, integrasi perlindungan satwa dalam rencana penanggulangan bencana menjadi kebutuhan mendesak. Mulai dari pemetaan risiko terhadap habitat, prosedur evakuasi ternak dan hewan peliharaan, hingga kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, relawan, dan komunitas.
Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi cara kita meresponsnya mencerminkan nilai yang kita anut. Ketika satwa tidak lagi luput dari perhatian, di situlah penanganan bencana bergerak menuju pendekatan yang lebih adil, berkelanjutan, dan beradab.