Di balik persaingan kedua tim raksasa, terselip fakta unik mengenai Tanjung Verde (Cape Verde).
Negara kepulauan kecil berpenduduk 530.000 jiwa ini menjadi satu-satunya tim yang tidak bisa dikalahkan oleh Spanyol maupun Argentina dalam waktu normal 90 menit di sepanjang turnamen 2026.
Tanjung Verde sukses menahan imbang Spanyol di fase grup, dan memaksa Argentina bermain hingga extra time di babak 32 besar.
Sementara itu, laga pamungkas ini akan dipimpin oleh wasit utama asal Slovenia, Slavko Vincic (46 tahun).

Ia menjadi wasit pertama dari Slovenia yang memimpin final Piala Dunia pria, setelah sebelumnya memimpin Final Liga Champions 2024.
Vincic akan dibantu oleh Tomaz Klancnik dan Andraz Kovacic (Slovenia), Bastian Dankert sebagai wasit VAR (Jerman), serta Nicolas Gallo (Kolombia).
Penunjukan wasit Eropa ini sempat memicu sorotan tajam karena Argentina berturut-turut dipimpin wasit Eropa saat melawan tim dari benua yang sama di laga final.
Sebelumnya, performa wasit yang memimpin laga Argentina sempat dikritik publik, seperti saat melawan Aljazair dan Mesir.
Namun, Ketua Wasit FIFA, Pierluigi Collina, langsung pasang badan membela integritas pengadil lapangan mereka.
Faktor cuaca dan eksternal turut mewarnai persiapan laga final Piala Dunia 2026 ini.
Pada awal pekan, asap dari kebakaran hutan Kanada sempat menyelimuti kawasan New York dan New Jersey.
Kualitas udara di area stadion bahkan sempat masuk kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif.
Namun, kedatangan front cuaca dingin di akhir pekan diprediksi akan menyapu kabut asap tersebut tepat sebelum laga dimulai.
Selain isu cuaca, FIFA saat ini juga sedang menganalisis efektivitas hydration breaks (jeda minum).
Langkah evaluasi ini diambil setelah FIFA mendapat gelombang kritik mengenai aturan tersebut selama turnamen berlangsung.