Pelatih Lionel Scaloni, menyuarakan kegelisahannya terkait jadwal padat di fase gugur Piala Dunia. Bagi Scaloni, durasi istirahat yang minim di tengah iklim yang ekstrem menjadi ancaman serius bagi kebugaran skuadnya.
Jika mampu melenggang ke partai puncak, La Albiceleste dipaksa melakoni lima laga dalam kurun waktu 17 hari. Beban berat ini tentu menguji kondisi fisik kapten mereka, Lionel Messi, yang kini telah menginjak usia 39 tahun.
“Semakin jauh turnamen berjalan, semestinya istirahat makin krusial. Namun, yang terjadi justru sebaliknya,” cetus Scaloni jelang laga kontra Mesir di Atlanta.
Kekhawatiran Scaloni bukan tanpa alasan. Saat menyingkirkan Tanjung Verde lewat drama 120 menit di Miami, banyak pemainnya bertumbangan karena kram. Kondisi geografis turnamen yang tersebar di tiga negara dengan perbedaan zona waktu dan cuaca ekstrem dinilai telah merusak ritme pemulihan pemain.
Ia juga menyoroti banyaknya tim besar yang berguguran, seperti Brasil, Portugal, Jerman, dan Belanda. sebagai bukti bahwa kondisi non-teknis seperti kualitas lapangan dan panasnya suhu telah membuat peta persaingan menjadi tidak merata.
“Ini bukan Piala Dunia yang tipikal. Banyak faktor yang membuat tim unggulan sulit tampil dominan,” tambahnya.
Meski jadwal terasa mencekik, Scaloni memastikan Messi tetap akan memimpin liani depan sejak menit awal saat bersua Mesir. Perubahan taktik juga disiapkan dengan menurunkan Leandro Paredes guna memberi keleluasaan bagi Alexis Mac Allister untuk beroperasi lebih tajam di lini serang.
Argentina (4-3-3): E. Martinez; Molina, Romero, L. Martinez, Medina; De Paul, Fernandez, Mac Allister; Messi, Martinez, Almada.
Pelatih: Lionel Scaloni.
Mesir (4-2-3-1): Mostafa Ahmed Shobeir; Mohamed Hany, Yasser Ibrahim, Rami Rabia, Karim Hafez; Mohanad Lasheen, Marwan Ateya; Emam Ashour, Mohamed Salah, Omar Marmoush; Mostafa Ziko.
Pelatih: Hossam Hassan.