Suku Minangkabau merupakan komunitas masyarakat matrilineal terbesar yang ada di dunia. Fakta unik sistem kekerabatan matrilineal Suku Minangkabau tidak hanya menjadi perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga diteliti oleh antropolog hingga sosiolog dari berbagai negara.
Minangkabau sendiri adalah suku yang mendiami Provinsi Sumatra Barat. Berdasarkan riset BPS, saat ini populasinya di Indonesia mencapai 6,5-8,4 juta jiwa di seluruh Indonesia. Jumlah ini sekitar 2,73% dari jumlah penduduk Indonesia.
Di tengah dominasi patrilineal di berbagai belahan dunia, penggunaan garis keturunan ibu Sumatera Barat tentu sangat menarik untuk dibahas. Yuk, simak selengkapnya dalam ulasan berikut ini!
Secara umum, pengertian matrilineal adalah sistem kekerabatan yang menarik garis keturunan dari pihak ibu saja. Ini merupakan struktur sosial yang terbilang unik di dunia. Karena saat ini kebanyakan daerah bahkan negara-negara di dunia menganut sistem yang sebaliknya: patrilineal.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, ada beberapa poin penting bagaimana sistem ini berlaku di masyarakatnya. Apa saja?
Struktur garis keturunan masyarakat Minangkabau akan membuat anak yang lahir mengikuti klan ibunya, bukan ayahnya. Jadi, tidak seperti masyarakat kebanyakan yang mengambil nama belakang atau marga ayah, anak-anak dari keluarga Minangkabau akan mengambil marga ibunya.
Jika anak tersebut dewasa, ia juga tidak dibenarkan melakukan perkawinan eksogami. Artinya, mereka tidak boleh menikah dengan orang lain dari klan yang sama dengan ia dan ibunya. Ini dilarang karena hubungan kekeluargaannya masih dianggap saudara kandung.
Selanjutnya, ketika seorang pria Minang menikah dengan wanita dari suku lain, maka anak-anaknya tidak disebut sebagai orang Minang.
Ketika pasangan Minangkabau menikah, biasanya mereka akan tinggal di rumah keluarga istri. Di rumah gadang tradisional, setiap wanita Minang yang sudah menikah akan memperoleh satu bilik. Di sanalah, suaminya akan tinggal.
Dalam tradisi Minangkabau, ada dua jenis harta dengan kepemilikan yang ketat. Harta-harta tersebut adalah:
Pembagian Harta Pusaka Tinggi yang berfokus pada perempuan pada dasarnya mirip dengan aturan dalam struktur patrilineal. Pemberian warisan mutlak Harta Pusaka Tinggi dilakukan untuk melindungi eksistensi perempuan sekaligus menjamin keberlangsungan garis keturunan.
Secara sosial dan biologis, perempuan dianggap sebagai pihak yang lebih rentan. Sedangkan laki-laki Minang justru didorong untuk merantau dan mengumpulkan Harta Pusaka Rendah. Adanya Harta Pusaka Tinggi akan menjamin pihak perempuan yang tinggal di kampung tidak terlantar dan tidak bergantung hidup pada orang lain.
Meski secara umum garis keturunan Suku Minang mengikuti ibunya, namun dalam pembagian tanggung jawab dalam keluarga tetap ada keseimbangan. Ini merupakan salah satu fakta unik sistem kekerabatan matrilineal Suku Minangkabau yang membuat struktur sosial ini semakin menarik.
Pembagian peran laki-laki dan perempuan secara seimbang ini hadir lewat filosofi “Adat nan Kawi, Syarak nan Lazim”. Artinya, adat yang kuat, dan Islam yang lazim. Jadi, ini bukan tentang siapa yang paling dominan, namun bagaimana keduanya saling melengkapi.
Adanya sistem ini memastikan bahwa setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan tidak kehilangan peran pentingnya dalam masyarakat.
Itulah penjelasan mengenai fakta unik sistem kekerabatan matrilineal Suku Minangkabau yang perlu Anda ketahui. Menarik sekali, bukan?
Aditya Pratama memiliki pengalaman 8 tahun bekerja di media online. Aditya mengawali kariernya sebagai staf riset di detik.com, lalu pindah menjadi editor liputan khusus. Selama pandemi, Aditya mencoba hal baru sebagai SEO Editor di Pikiran-Rakyat.com sebelum akhirnya menjadi Reporter di Retoria.id. Selain mengembangkan konten visual, program, dan kerja sama, Aditya juga menangani dan mengkurasi konten-konten pakar yang dipublikasikan secara menarik.