Retoria.id – Pada waktu baru lulus S1 di Indonesia, aku kerja sebagai asisten peneliti di sebuah LSM kecil di Pekanbaru. Gajinya? Cuma Rp 3,8 juta sebulan.
Cukup untuk kos, makan, dan sedikit membantu orang tua. Mimpi sekolah ke luar negeri rasanya kayak bintang keliatan, tapi jauh sekali. Tapi aku gigih. Aku apply beasiswa ke mana-mana, sambil nabung receh dari proyek freelance.
Lalu, seperti keajaiban, email penerimaan beasiswa S2 ke University of Melbourne itu datang. Aku terbang dengan tabungan cuma Rp 5 juta di rekening, plus beasiswa yang cuma nutup tuition fee dan living cost pas-pasan.
Awal-awal di sini, Melbourne, itu benar-benar ujian. Dingin, sepi, dan dana terbatas. Aku kerja apa saja yang legal dengan visa pelajarku: jadi barista di kafe kampus, bersih-bersih perpustakaan di akhir pekan, bahkan pernah jadi petugas sample di pameran properti.
Gajiku kala itu mungkin setara Rp 20-30 juta sebulan sebelum dipotong biaya hidup Melbourne yang tinggi. Hidup sangat hemat, masak sendiri, cari diskonan. Tapi itu semua kulakukan sambil menjaga IPK tetap tinggi.
Perjuangan itu terbayar. Setelah lulus, aku dapat Post-Study Work Visa. Aku magang tanpa bayar dulu selama 6 bulan di sebuah konsultan lingkungan investasi waktu yang sakit sih, tapi perlu buat bangun CV. Lalu, akhirnya, aku diterima sebagai Junior Environmental Analyst.
Gaji pertamaku dalam setahun, setelah dikonversi, sekitar Rp 600 juta. Aku nangis saat transfer pertama ke orang tua di Pangkalan Kerinci. Mereka nggak percaya.
Baca Juga: Kisah Inspiratif: Susan Wojcicki, Perempuan Visioner di Balik Kesuksesan Google dan YouTube
Kerja keras berlanjut. Dua tahun kemudian, posisiku naik, dan sekarang, di usia 27, gajiku setara sekitar Rp 1,5 miliar per tahun. Angka yang gila. Pernah nggak aku menyangka. Dari Rp 3,8 juta di Indonesia, terjun bebas ke kehidupan pas-pasan di Melbourne, lalu perlahan merangkak naik.
Tapi, tahu nggak? Gaji besar itu baru benar-benar terasa “berharga” bukan saat aku beli tas branded atau makan di restoran mewah hidupku tetap sederhana, kok melainkan saat aku bisa jadi jembatan untuk anak-anak lain seperti dulu diriku.
Aku mulai bantu adik-adik tingkat dari kampung halaman. Kasih tips aplikasi beasiswa, review motivation letter, sampai cara cari kerja sampingan yang legal di sini. Dari satu, jadi lima, sekarang sudah 14 orang yang kubantu sampai mereka bisa mandiri di sini. Mereka anak-anak petani sawit, nelayan, yang pinter tapi kurang akses.
Lihat mereka sekarang, itu kebanggaanku yang sesungguhnya. Ada yang sekarang kuliah di Adelaide sambil kerja, dan bisa renovasi rumah orang tuanya yang dari kayu reot jadi permanen.
Ada yang bikin komunitas belajar buat saling support agar nggak kesepian. Setiap kali dapat kabar baik dari mereka, rasanya semua kerja kerasku, semua rasa rindu dan lelah di awal-awal dulu, itu terbayar lunas.
Aku ingat pesan almarhum bapakku: “Rina, orang sukses itu bukan yang naik sendiri, tapi yang naik sambil mengulurkan tangan.”
Jadi, inilah caraku memahami warisan beliau. Bukan dengan gaji besar atau tinggal di kota megah, tapi dengan memastikan bahwa tangga yang kunaiki nggak diangkat setelah aku sampai.
Aku biarkan tangga itu tetap di sana, bahkan kuperkuat, agar lebih banyak lagi anak-anak Pangkalan Kerinci yang bisa memanjatnya, meraih mimpi mereka sendiri.
Di sini, di Melbourne yang terkadang masih terasa asing, aku justru menemukan rasa “pulang”. Karena rasanya, setiap kali satu anak kampung halaman berhasil meraih peluang di sini, sepotong kecil kampung halamanku hadir dan tumbuh bersamaku. (*)